Menjaga Sakti di Papan Tulis

Di hadapan jemari-jemari mungil yang memegang pensil,
Setiap pagi kurajut mimpi dan sebongkah harapan.
Menjadi guru adalah mengeja sabar yang tiada hilir,
Mengalirkan ilmu di antara riuh dan tawa masa depan.
Hari ini, 1 Oktober lonceng sekolah berbunyi lebih khidmat,
Kami berdiri tegak di bawah kibaran Merah Putih yang perkasa.
Mengingat kembali Hari Kesaktian Pancasila yang keramat,
Tentang fondasi kokoh yang menjaga jiwa seluruh bangsa.
Di dalam ruang kelas yang sederhana ini,
Tugas ku bukan sekadar mengejar angka dan nilai.
Melainkan menanamkan lima pilar suci ke dalam hati,
Agar tunas-tunas muda ini tumbuh tak mudah terkulai.
Kusampaikan pada mereka tentang Ketuhanan yang menuntun jalan,
Tentang Kemanusiaan dan Persatuan yang meruntuhkan perbedaan.
Bahwa keragaman di bangku kelas adalah sebuah keindahan,
Dan Keadilan Sosial harus tegak dalam setiap keputusan.
Pancasila itu sakti, bukan sekadar hafalan upacara,
Ia hidup dan bernyawa dalam setiap tutur kata dan sapa.
Melalui kapur dan doa yang kulangitkan tanpa jeda,
Kujaga garuda di dada mereka agar tetap terbang jaya.
Sebagai perajin akal budi, kutitipkan sebuah janji,
Di atas mimbar kelas, perjuangan ini takkan pernah mati.
Merawat Indonesia melalui anak-anak negeri,
Memastikan Pancasila abadi, merajut pertiwi.
——————————
Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan