
Rumah yang Masih Menyimpan Suaramu
Ada rumah-rumah yang dibangun dari batu bata.
Ada pula rumah yang dibangun dari suara.
Rumahku adalah yang kedua.
Ia dibangun dari suara Ibu yang memanggil namaku dari dapur, dari suara Ayah yang berdeham sebelum menanyakan bagaimana hariku, dari suara sandal yang diseret pelan menuju ruang tengah, dan dari suara pintu yang selalu terbuka setiap kali aku pulang.
Dulu, aku mengira rumah hanyalah tempat untuk kembali.
Sekarang aku tahu, rumah adalah seseorang.
Dan ketika seseorang itu pergi, rumah tetap berdiri, tetapi rasanya tidak lagi sama.
Pagi itu, aku bangun lebih cepat dari biasanya.
Entah mengapa.
Barangkali karena mimpi.
Dalam mimpi itu, aku masih menjadi anak kecil yang berlari tanpa alas kaki di halaman. Ibu sedang menjemur pakaian. Ayah duduk di kursi kayu sambil membaca koran. Matahari belum terlalu tinggi. Udara pagi membawa aroma tanah yang basah setelah hujan.
Aku memanggil mereka.
“Bu…”
Ibu menoleh.
Ayah tersenyum.
Sederhana.
Begitu sederhana hingga ketika aku terbangun, dadaku terasa sesak oleh sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.
Aku menatap langit-langit kamar.
Sunyi.
Tidak ada suara Ibu dari dapur.
Tidak ada suara Ayah membuka pintu.
Hanya suara jam dinding yang berjalan seperti biasa.
Tik.
Tok.
Tik.
Tok.
Aku duduk di tepi tempat tidur.
Untuk beberapa detik, aku lupa bahwa mereka sudah tidak ada.
Aku hampir membuka pintu kamar dan memanggil,
“Bu, sudah masak?”
Namun langkahku berhenti.
Aku terdiam di depan pintu.
Barulah kenyataan itu kembali.
Pelan-pelan.
Seperti hujan yang jatuh tanpa suara.
Ibu sudah tidak ada.
Ayah juga sudah tidak ada.
Dan aku masih di rumah yang pernah mereka isi dengan begitu banyak kehidupan.
Orang-orang mengatakan waktu akan menyembuhkan kehilangan.
Aku tidak sepenuhnya percaya.
Waktu tidak menyembuhkan.
Waktu hanya mengajari seseorang bagaimana hidup berdampingan dengan rindu.
Hari-hari pertama setelah kepergian mereka terasa seperti berjalan di sebuah lorong panjang tanpa ujung.
Aku masih sering melakukan hal-hal yang dulu biasa kulakukan.
Membuka pintu rumah.
Menyalakan lampu.
Merapikan meja.
Membuka lemari.
Lalu berhenti.
Sebab di setiap sudut ada sesuatu yang mengingatkanku kepada mereka.
Di dapur ada cangkir kesayangan Ibu.
Di ruang tamu ada kursi yang selalu digunakan Ayah.
Di kamar ada kain yang pernah dilipat Ibu dengan rapi.
Di rak buku ada sebuah buku tua yang pernah Ayah katakan akan dibacanya suatu hari.
Buku itu tidak pernah selesai dibaca.
Dan sekarang aku tidak tahu apakah harus menyimpannya atau membiarkannya tetap terbuka pada halaman terakhir.
Aku memilih membiarkannya terbuka.
Entah kenapa.
Mungkin karena aku ingin percaya bahwa beberapa cerita memang tidak benar-benar selesai.
Malam adalah waktu yang paling sulit.
Siang terlalu sibuk untuk membuatku mengingat.
Tetapi malam selalu punya cara sendiri untuk mengembalikan semuanya.
Aku duduk di teras.
Langit gelap.
Beberapa bintang terlihat samar.
Dulu, Ayah sering duduk di tempat yang sama.
Katanya, melihat langit membuat manusia sadar bahwa hidup ini tidak sebesar yang sering kita pikirkan.
“Kalau sedang banyak masalah,” katanya suatu malam, “lihat langit.”
Aku tertawa.
“Memangnya masalah bisa hilang kalau lihat langit?”
Ayah ikut tertawa.
“Tidak.”
“Lalu?”
“Kita yang menjadi lebih kuat untuk menghadapinya.”Aku baru memahami kalimat itu setelah Ayah tidak ada.
Betapa sering nasihat baru memiliki makna ketika orang yang mengucapkannya sudah tidak bisa lagi mengulanginya.
Aku mendongak.
“Yah…”
Suaraku pelan.
Tidak ada jawaban.
Aku tersenyum getir.
“Dulu Ayah bilang lihat langit kalau sedang banyak masalah.”
Aku menarik napas.
“Sekarang aku lihat langit karena sedang rindu.”
Angin malam melewati wajahku.
Tidak ada jawaban.
Tetapi entah mengapa, malam terasa sedikit lebih hangat.
Aku sering bertanya kepada diriku sendiri:
Mengapa manusia baru benar-benar memahami arti memiliki setelah kehilangan?
Ketika Ibu masih ada, aku sering menganggap sarapannya sebagai sesuatu yang biasa.
Ketika Ayah masih ada, nasihatnya kadang terasa seperti suara yang ingin segera kulewati.
Ketika mereka memanggil namaku, terkadang aku menjawab sambil lalu.
Ketika mereka bertanya apakah aku sudah makan, kadang aku menjawab singkat.
Sekarang, untuk mendengar satu kali saja suara itu, aku rela menukar banyak hal.
Tetapi hidup tidak bekerja seperti itu.
Tidak ada mesin waktu.
Tidak ada pintu yang bisa membawaku kembali.
Tidak ada cara untuk mengulang satu pagi hanya agar aku bisa berkata:
“Terima kasih, Bu.”
“Terima kasih, Yah.”
“Aku sayang kalian.”
Kalimat-kalimat sederhana yang dulu terasa tidak mendesak.
Kini menjadi kalimat yang paling ingin kukatakan.
Suatu sore, aku membersihkan kamar mereka.
Aku membuka lemari perlahan.
Pakaian Ibu masih tertata.
Beberapa baju Ayah masih tergantung.
Aku menyentuh salah satunya.
Ada aroma samar yang tidak bisa lagi kukenali.
Aku memejamkan mata.
Tiba-tiba ingatan masa kecil datang seperti gelombang.
Aku melihat diriku yang masih kecil.
Berlari menuju Ayah.
Menangis karena jatuh.
Ayah mengangkatku.
Ibu datang membawa obat.
“Makanya jangan lari-lari,” kata Ibu.
Aku menangis lebih keras.
Ayah tertawa.
Ibu mengusap kepalaku.
Kemudian semuanya kembali menjadi sunyi.
Aku membuka mata.
Kamar itu masih sama.
Tetapi tidak ada mereka.
Aku duduk di lantai.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku membiarkan air mata jatuh.
Bukan karena aku ingin mengasihani diri sendiri.
Aku hanya sedang merindukan dua orang yang dulu membuat dunia terasa aman.
Aku menangis cukup lama.
Kemudian aku menyadari sesuatu:
Ternyata kehilangan tidak selalu membuat kita lupa.
Justru kehilangan membuat kenangan menjadi semakin jelas.
Beberapa bulan berlalu.
Aku mulai kembali menjalani kehidupan.
Bekerja.
Bertemu orang.
Tertawa.
Berbicara.
Sesekali bahkan lupa bahwa aku sedang membawa sebuah kehilangan.
Lalu tiba-tiba, sesuatu yang sederhana akan membuatku kembali terdiam.
Aroma masakan tertentu.
Lagu lama.
Suara seseorang memanggil “Nak”.
Pemandangan seorang ayah menggandeng anaknya.
Seorang ibu yang membetulkan kerah baju anaknya.
Hal-hal kecil.
Hal-hal yang bagi orang lain mungkin biasa.
Bagiku, semuanya seperti pintu menuju masa lalu.
Namun kini aku tidak lagi berusaha menutup pintu itu.
Aku membiarkannya terbuka.
Sebab di balik pintu itulah mereka masih tinggal.
Bukan dalam bentuk tubuh.
Bukan dalam suara yang dapat kudengar.
Melainkan dalam cara aku menjalani hidup.
Suatu malam, aku menemukan sebuah kotak kecil di laci meja Ayah.
Di dalamnya ada beberapa foto.
Foto pernikahan mereka.
Foto masa kecilku.
Foto keluarga saat aku masih sekolah.
Dan sebuah kertas kecil dengan tulisan tangan Ayah.
Tulisan yang langsung kukenali.
Hanya ada satu kalimat:
“Kalau suatu hari Ayah dan Ibu tidak lagi menemanimu, jangan berhenti menjadi orang baik.”
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Lalu menangis.
Bukan karena kalimat itu membuatku semakin sedih.
Tetapi karena aku akhirnya mengerti.
Orang tua mungkin tidak selalu bisa memberikan rumah untuk anaknya selamanya.
Namun mereka meninggalkan sesuatu yang jauh lebih panjang daripada usia mereka:
nilai-nilai yang mereka tanamkan.
Cara mereka mencintai.
Cara mereka bekerja.
Cara mereka memaafkan.
Cara mereka bertahan.
Dan cara mereka mengajarkan anaknya untuk tetap menjadi manusia meskipun dunia tidak selalu ramah.
Aku melipat kertas itu dengan hati-hati.
Kumasukkan kembali ke dalam kotak.
Tetapi kali ini, aku tidak menyimpannya di laci.
Aku meletakkannya di meja kerjaku.
Agar setiap hari aku dapat melihatnya.
Agar setiap kali lelah datang, aku ingat bahwa ada dua manusia yang pernah percaya kepadaku bahkan sebelum aku percaya kepada diriku sendiri.
Hari ini, rumah itu masih berdiri.
Dindingnya masih sama.
Jendelanya masih menghadap halaman.
Kursi Ayah masih berada di sudut ruang tamu.
Cangkir Ibu masih kusimpan.
Namun rumah itu tidak lagi terasa sesunyi dahulu.
Sebab akhirnya aku memahami sesuatu.
Mereka memang telah pergi.
Tetapi cinta tidak ikut pergi bersama mereka.
Cinta itu tinggal.
Di dalam kebiasaanku.
Di dalam doa-doaku.
Di dalam caraku memperlakukan orang lain.
Di dalam keberanianku menghadapi hidup.
Di dalam setiap keberhasilan kecil yang kuraih.
Dan setiap kali aku pulang, meski tidak ada lagi suara yang menyambut dari balik pintu, aku tetap mengucapkan dalam hati:
“Bu, Yah, aku pulang.”
Tentu tidak ada jawaban.
Namun kini aku tidak lagi menunggu.
Aku tahu, mungkin cinta memang tidak selalu hadir dalam bentuk suara.
Kadang ia hadir sebagai ketenangan.
Kadang sebagai kekuatan.
Kadang sebagai kenangan.
Dan kadang, ia hadir sebagai keberanian untuk terus hidup.
Aku menutup pintu rumah.
Menatap langit.
Malam itu bintang-bintang tampak lebih terang.
Aku tersenyum.
“Terima kasih sudah menjadi rumahku.”
Lalu aku berjalan masuk.
Sendiri.
Tetapi tidak lagi merasa benar-benar sendirian.
Sebab di dalam diriku,
masih ada rumah yang mereka bangun.
Dan rumah itu—
tidak akan pernah kehilangan mereka.





