
Pulang yang Tak Sempat
Di kota yang setiap paginya diselimuti suara kendaraan dan langkah manusia yang
terburu-buru, ada sebuah toko buku kecil bernama Senandika. Letaknya di ujung gang,
terjepit di antara kedai kopi dan bengkel yang tak pernah benar-benar sunyi. Papan
namanya telah pudar dimakan matahari, tetapi huruf-hurufnya masih bertahan seperti
seseorang yang menolak dilupakan.
Pemilik toko itu bernama Aruna. Usianya tiga puluh tahun, tetapi sorot matanya
sering tampak lebih tua daripada usia yang dititipkan pada kartu identitas. Ia percaya bahwa
buku adalah rumah bagi hal-hal yang tidak sempat diucapkan manusia. Karena itu, ia
menjaga toko tersebut seperti seseorang menjaga sebuah makam: dengan tenang, dengan
hormat, dan dengan kesetiaan yang kadang-kadang tidak masuk akal.
Setiap pagi Aruna membuka pintu sebelum matahari benar-benar naik. Ia menyapu
lantai, menata buku, lalu menyeduh kopi untuk dirinya sendiri. Setelah itu, ia duduk di
belakang meja kasir dan membaca.
Orang-orang mengira hidupnya sederhana. Mereka tidak tahu bahwa kesederhanaan
sering kali hanyalah nama lain dari kesunyian yang sudah terlalu lama dipelihara.
Di dinding toko tergantung sebuah jam tua. Jarumnya selalu terlambat tujuh menit.
Aruna sengaja tidak pernah membetulkannya.
“Waktu juga pernah terlambat memahami manusia,” katanya suatu hari kepada
seorang pelanggan kecil bernama Nara.
Nara adalah anak perempuan berusia sebelas tahun yang hampir setiap sore datang
ke toko. Ia tidak selalu membeli buku. Kadang ia hanya duduk di sudut ruangan dan
membaca sampai ibunya menjemput.
“Kenapa jamnya dibiarkan salah?” tanya Nara.
“Supaya aku ingat bahwa tidak semua kesalahan harus segera diperbaiki.”
“Bukankah kesalahan harus diperbaiki?”
“Kalau bisa.” Aruna tersenyum. “Tetapi ada kesalahan yang hanya bisa diterima.”
Nara mengernyit. Ia belum mengerti.
Aruna juga tidak yakin dirinya mengerti.
***
Pada suatu sore, seorang lelaki tua datang membawa kardus besar. Namanya Pak
Darma, mantan guru yang rumahnya akan dijual karena ia harus pindah ke kota lain untuk tinggal bersama anaknya.
“Buku-buku ini sudah terlalu lama menemani saya,” katanya. “Saya tidak sanggup
membawanya semua.”
Aruna membuka kardus itu satu per satu. Ada novel lama, kumpulan puisi, buku
sejarah, kamus yang sampulnya hampir lepas, dan beberapa buku pelajaran yang kertasnya
telah menguning.
Di bagian paling bawah, Aruna menemukan sebuah buku catatan hitam.
“Ini apa?”
Pak Darma terdiam agak lama.
“Catatan murid-murid saya.”
Aruna membukanya. Isinya bukan nilai atau daftar pelanggaran. Di dalamnya
terdapat potongan tulisan para murid tentang cita-cita mereka.
Ada yang ingin menjadi dokter. Ada yang ingin menjadi polisi. Ada yang ingin menjadi penyair. Ada yang ingin membangun rumah untuk orang tuanya.
Di halaman terakhir terdapat tulisan seorang anak bernama Bima.
“Aku ingin menjadi orang baik. Kata Ibu, menjadi pintar itu penting, tetapi menjadi
baik lebih sulit.”
Aruna membaca kalimat itu berkali-kali.
“Bima sekarang di mana?” tanyanya.
Pak Darma tersenyum pahit.
“Tidak tahu.”
“Tidak pernah bertemu lagi?”
“Tidak.”
“Bapak tidak mencarinya?”
Pak Darma memandang rak buku di hadapannya.
“Kadang-kadang guru mengajarkan banyak hal kepada murid. Tetapi waktu
mengajarkan bahwa tidak semua orang yang kita bantu akan kembali untuk memberi
kabar.”
Ia menarik napas.
“Barangkali memang begitu tugas kebaikan. Ia bekerja dalam diam.”
Setelah Pak Darma pergi, Aruna masih memegang buku hitam itu.
Ia tiba-tiba teringat ayahnya.
Ayahnya dahulu juga seorang guru. Lelaki yang setiap pagi mengenakan kemeja
putih, membawa tas tua, dan pulang dengan suara serak setelah seharian mengajar.
Ayahnya selalu mengatakan bahwa pendidikan adalah cara paling sunyi untuk mengubah
dunia. Namun dunia tidak pernah membalas semua kebaikannya.
Ayah Aruna meninggal ketika Aruna berusia dua puluh tahun. Penyakit datang
seperti tamu yang tidak diundang, lalu tinggal terlalu lama.
Pada minggu terakhir, ayahnya sempat berkata, “Jangan takut hidup hanya karena
hidup sering tidak adil.”
Aruna waktu itu marah.
“Kalau hidup tidak adil, untuk apa kita berbuat baik?”
Ayahnya tersenyum.
“Karena kalau semua orang memilih jahat hanya karena pernah disakiti, dunia tidak
akan memiliki alasan untuk menjadi lebih baik.”
Itulah percakapan terakhir mereka.
Bertahun-tahun kemudian, Aruna baru menyadari bahwa beberapa nasihat baru
menemukan maknanya setelah orang yang mengucapkannya tidak lagi bisa menjelaskan.
***
Beberapa bulan berlalu.
Kota itu memasuki musim hujan. Jalanan menjadi cermin panjang yang memantulkan lampu kendaraan. Orang-orang berjalan dengan payung, sementara langit
menumpahkan air seperti seseorang yang akhirnya menyerah menyimpan kesedihan.
Pada sebuah malam, Aruna menemukan sebuah amplop di bawah pintu toko.
Tidak ada nama pengirim.
Di dalamnya terdapat selembar kertas.
“Untuk pemilik toko buku yang masih percaya pada cerita.”
Aruna membacanya dengan dahi berkerut.
Surat itu berasal dari seseorang yang mengaku pernah kehilangan pekerjaan, rumah,
dan hampir kehilangan keluarganya.
Ia menulis bahwa suatu hari ia menemukan sebuah buku di toko Senandika.
Buku itu membuatnya berani memulai lagi.
Di akhir surat hanya ada satu kalimat:
“Terima kasih karena pernah menyediakan tempat bagi saya untuk percaya bahwa
hidup belum selesai.”
Aruna duduk lama.
Ia tidak tahu siapa orang itu.
Ia bahkan tidak tahu buku mana yang dimaksud.
Namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa pekerjaannya memiliki jejak yang tidak terlihat.
Ironis sekali, pikirnya.
Ia selama ini merasa toko itu hanya tempat menjual buku.
Ternyata mungkin ada
seseorang yang pernah menemukan alasan untuk bertahan melalui halaman-halaman yang ia susun di rak.
Kebaikan kadang memang seperti benih yang ditanam tanpa nama.
Kita tidak
pernah tahu di tanah mana ia tumbuh.
***
Suatu pagi, kabar buruk datang.
Pemilik gedung tempat toko Senandika berdiri memutuskan menjual seluruh
bangunan. Aruna diberi waktu tiga puluh hari untuk mengosongkan toko.
“Tidak bisa diperpanjang?” tanyanya.
“Maaf, Mbak. Harga tanah naik. Ada investor yang sudah membeli.”
Aruna tersenyum getir.
Harga tanah naik. Harga buku tetap. Harga kenangan tidak bisa ditentukan.
Ia menatap rak-rak yang selama bertahun-tahun menjadi bagian hidupnya.
“Baik,” katanya.
Malam itu ia tidak tidur.
Ia memandangi toko dari balik jendela. Hujan turun perlahan. Lampu jalan
berkabut.
Di kaca, wajahnya sendiri tampak seperti seseorang yang sedang kehilangan
rumah untuk kedua kalinya.
Keesokan harinya ia mulai menjual buku dengan harga murah.Nara datang dan terkejut melihat tulisan besar di pintu:
“SEMUA BUKU HARUS MENEMUKAN PEMILIK BARUNYA.”
“Toko ini mau tutup?”
Aruna mengangguk.
“Kenapa?”
“Karena pemilik gedung ingin menjualnya.”
Nara menunduk.
“Kalau bukunya habis, Kak Aruna mau ke mana?”
“Entahlah.”
“Terus kalau tidak tahu mau ke mana?”
Aruna tersenyum.
“Mungkin kita sedang diberi kesempatan untuk menemukan tempat baru.”
Nara memandang rak buku.
“Apakah semua yang pergi akan kembali?”
Aruna terdiam.
Pertanyaan itu sederhana, tetapi menusuk seperti jarum kecil.
“Tidak selalu,” jawabnya akhirnya.
“Lalu kenapa orang pergi?”
“Karena hidup tidak hanya terdiri dari pertemuan.”
“Terus?”
“Dari kehilangan juga.”
Nara memeluk sebuah buku di dadanya.
“Aku tidak suka kehilangan.”
“Aku juga.”
Mereka tersenyum, tetapi mata keduanya menyimpan sesuatu yang tidak selesai.
***
Hari terakhir tiba lebih cepat daripada yang diharapkan.
Rak-rak telah kosong. Kardus memenuhi lantai. Papan nama diturunkan. Hanya jam
tua yang masih tergantung di dinding.
Nara datang membawa selembar kertas.
“Aku menulis sesuatu.”
Aruna menerimanya.
Di sana tertulis:
“Kalau toko ini tidak ada lagi, jangan sedih. Tempat bisa hilang, tetapi cerita tidak.
Cerita akan tinggal di orang-orang yang pernah membacanya.”
Aruna menahan napas.
Ia memeluk Nara.
Di luar, hujan turun.
Sekali lagi kota menjadi buram.
Tetapi kali ini Aruna tidak merasa sedang melihat akhir.
Ia merasa sedang melihat halaman baru yang belum ditulis.
Sebelum pergi, ia melepaskan jam tua dari dinding. Ia memasukkannya ke dalam
tas.
“Jamnya masih terlambat tujuh menit,” kata Nara.
“Biarkan.”
“Kenapa?”
Aruna tersenyum.
“Karena aku akhirnya tahu maksudnya.”
***
Enam bulan kemudian, di sebuah gang yang lebih kecil, berdiri sebuah tempat
bernama Rumah Baca Senandika.
Tidak besar. Tidak mewah. Tidak memiliki papan nama yang mengilap.
Tetapi setiap sore, anak-anak datang membaca.
Nara menjadi salah satu pengunjung pertama.
Pak Darma sesekali datang menyumbangkan buku.
Dan Aruna, di belakang meja kayu sederhana, kembali melakukan pekerjaan yang
sama: menyusun buku, menyeduh kopi, dan mendengarkan suara halaman dibalik.
Jam tua itu masih ada. Jarumnya tetap terlambat tujuh menit.
Suatu sore, seorang anak laki-laki bertanya, “Kak, kenapa jamnya salah?”
Aruna tertawa kecil.
“Supaya kita tidak terlalu percaya bahwa waktu selalu tahu jalan yang benar.”
Anak itu tertawa.
Aruna memandang keluar jendela.
Matahari sore menyentuh atap rumah-rumah dengan cahaya keemasan. Kota tetap
gaduh. Orang-orang tetap mengejar sesuatu.
Sebagian berhasil, sebagian gagal, sebagian
bahkan tidak tahu apa yang sedang mereka kejar.
Hidup masih tidak adil.
Orang baik masih bisa terluka. Orang jujur masih bisa kalah. Orang yang bekerja
keras masih bisa kehilangan. Dan orang yang tulus kadang harus menerima kenyataan
bahwa tidak semua kebaikan akan dibalas.
Namun Aruna akhirnya mengerti: ironi kehidupan bukan alasan untuk berhenti
menjadi manusia.
Justru karena hidup tidak sempurna, kebaikan menjadi berarti.
Justru karena kehilangan tidak terhindarkan, pertemuan menjadi berharga.
Justru karena waktu tidak dapat diulang, setiap detik layak dihargai.
Dan justru karena manusia tidak selamanya tinggal, cerita menjadi cara paling
sederhana untuk mengatakan: “Aku pernah ada. Aku pernah mencintai. Aku pernah
terluka. Aku pernah berharap.”
Malam datang perlahan.
Satu per satu anak pulang.
Lampu Rumah Baca Senandika tetap menyala.
Aruna membuka buku kosong.
Ia menulis kalimat pertama:
“Barangkali hidup tidak pernah meminta kita memahami seluruh ceritanya. Ia
hanya meminta kita terus membaca, bahkan ketika beberapa halaman terasa pahit.”
Ia berhenti sejenak.
Lalu menambahkan:“Karena pada akhirnya, manusia bukan hanya dibentuk oleh kisah-kisah bahagia
yang ia miliki, tetapi juga oleh ironi yang pernah membuatnya bertanya mengapa.”
Aruna menutup buku.
Di luar, hujan mulai turun.
Kali ini ia tidak melihat hujan sebagai kesedihan.
Ia melihatnya sebagai cara langit mencuci debu dari jalanan, agar manusia bisa
berjalan lagi dengan pandangan yang lebih jernih.
Dan mungkin, begitulah kehidupan bekerja.
Ia tidak selalu menghapus luka. Ia tidak selalu mengembalikan yang hilang. Ia tidak
selalu memberi jawaban.
Tetapi ia hampir selalu menyediakan sebuah halaman baru.
Tinggal manusia yang memutuskan apakah halaman itu akan dibiarkan kosong, atau
diisi dengan keberanian untuk kembali hidup.






