Pelita yang Bergetar

Di balik dinding-dinding kusam dan lantai berdebu,

Aku berdiri memegang sisa kapur yang merapuh.

Menatap barisan wajah yang penuh harap dan mimpi,

Namun tersadar oleh jurang ketimpangan yang berdiri.

 

Sebelah sisi, ruang-ruang bermandi cahaya teknologi,

Tempat dunia terbuka lewat sentuhan jemari.

Namun di sudut lain, atap bocor menanti runtuh,

Menampung tetes air mata anak-anak yang tertunduh.

 

Di mana keadilan yang dulu diajarkan di buku-buku?

Ketika fasilitas dan akses terbagi secara kaku.

Ada yang berlari kencang menggapai angkasa raya,

Ada pula yang merangkak, terseok di lumpur derita.

 

Hatiku bergeming, bergemuruh dalam sepi malam,

Menyaksikan mimpi-mimpi kecil terkubur dalam kelam.

Apakah aku hanya pelita kecil yang kian meredup?

Menyala sendiri di tengah malam yang tertutup?

 

Namun, meski tangan ini gemetar menahan beban,

Dan dada sesak menyaksikan ketidakadilan berserakan,

Selama napas masih berhembus di ruang pengabdian,

Akan kuwariskan api, meski kecil, melawan kegelapan.

 

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *