
Senyum yang menjadi Alasan untuk Bertahan
Lagu Indonesia Raya masih terdengar jelas ditelinga, dan tangan ini seraya memberi hormat kepada sang Merah Putih yang menari-nari bersama hembusan udara pagi dengan indahnya. Aku fikir, setelah aku lulus SMA kegiatan rutin hari senin ini akan menghilang dari hidupku, tetapi nyatanya tidak. Aku bahkan sudah tercebur kedalam kolam yang aku buat sendiri, dan kini kolam itu sudah jauh lebih dalam dari yang aku bayangkan.
Aku masih ingat dulu obrolan ku dengan Guru SMA ku, tentang jalan mana yang akan aku ambil setelah lulus SMA nnti ? Menjadi seorang pengajar adalah impianku dari kecil, bahkan tidak ada hal yang lain yang aku impikan selain menjadi seorang guru. dan memiliki orang tua yang berprofesi sebagai guru salah salu motivasi terbesarku untuk menjadi seorang Guru, walaupun banyak orang bilang bahkan perbincangan dengan Guru SMA ku ini pun menjelaskan bahwa masih banyak pekerjaan yang menjanjikan untuk aku raih di masa mudaku ini, karena pekerjaan yang mulia itu tidak setimpal dengan upah yang akan aku terima nanti. Tidak aku hiraukan hal itu, yang terpenting tekad ku untuk menjadi seorang guru akan tetap membara.
Ternyata hal yang tak terduga pada hidupku terjadi, aku tidak lolos dalam seleksi SBMPTN untuk melanjutkan kuliah keguruan di perguruan tinggi negeri, SBMPTN adalah jalur seleksi kuliah ke perguruan tinggi negeri pada tahun 2013, yang sekarang berganti menjadi SNBT. tetapi setelah itu, hal yang tidak pernah aku bayangkan sedikit itu pun terjadi begitu saja. Bapak ku mengajakku agar aku bisa menjadi tenaga honorer di SD yang sedang membutuhkan tenaga pendidik disana, dengan pasrah aku pun mengiyakan saran bapak, karena orang tua pasti tau yang terbaik untuk anaknya, makanya aku tidak menolak ajakan bapak. Hingga akhirnya, diri ini di takdirkan menjadi seorang guru dengan proses yang tidak pernah aku bayangkan.
Dua bulan setelah lulus SMA aku menjadi seorang Operator atau Tata Usaha yang membantu merapihkan administrasi sekolah, yang ternyata banyak hal yang aku pelajari pada profesi ini, dari mulai merapihkan data siswa, data guru, data inventaris barang sekolah, sampai dana operasional sekolah yang harus aku atur sedemikian rupa agar anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak di Sekolah.
“oh… ternyata dunia pendidikan tuh aslinya seperti ini yah.” Ucapku dalam hati, jika ada hal yang membuatku terheran akan beberapa hal yang masih terasa aneh, tetapi harus aku lakukan.
Selain diberi tugas menjadi operator, aku pun menjadi seorang Guru bahasa inggris disana, karena menurut mereka fresh graduate seperti aku ini mahir mengajarkan bahasa inggris untuk jenjang sekolah dasar. Yah, kenapa tidak untuk aku coba?, walaupun nyatanya skill bahasa inggris aku minim sekali.
Satu tahun berlalu, aku ternyata sangat menikmati pekerjaan ini. Rekan kerja yang sangat merangkul aku, dan selalu memberikan ilmu yang banyak untuk aku itu sangat membuat aku merasa diterima disana, dan merasa bahwa jiwaku memang benar sudah terikat disana. Juga yang setiap pagi ada anak-anak yang menanti kehadiranku dengan semangat dan senyum ceria yang membuat aku tetap bertahan dengan pekerjaan ini, walaupun ternyata benar upah yang aku terima tidak sepadan dengan beban kerja yang aku kerjakan. Tetapi, dengan melihat ketulusan mereka menanti ilmu-ilmu baru yang akan aku berikan kepada mereka, aku tidak merasa rugi dengan apa yang aku dapat, bahkan ingin memberikan ilmu yang lebih lagi untuk mereka.
Awalnya selalu insecure dengan teman teman SMA ku yang selalu update life style mereka sebagai mahasiswa, sedangkan aku update life style sebagai seorang pengajar tetapi tanpa ilmu keguruan dan gelar yang aku miliki, yang membuat ku selalu over thinking dan pertanyaan ini selalu terlintas difikiranku.
“sudah cukupkah ilmu yang aku berikan kepada anak-anak?”
“Pantaskah aku di panggil ibu guru tanpa gelar yang aku miliki?”
Semua pertanyaan itu yang menjadi cambukan untukku agar bisa lebih berkembang, dan mendorong aku agar aku bisa melanjutkan pendidikanku ke perguruan tinggi agar aku bisa memperdalam ilmu keguruan ku.
Ternyata, Proses kuliah sambil bekerja tidak semudah yang aku bayangkan, walaupun aku mengambil kuliah di kampus yang menyediakan kuliah kelas karyawan yang memudahkan bagi pekerja seperti aku ini untuk membagi waktu antara pekerjaan dengan pendidikan. Empat tahun berjuang, akhirnya pada tahun 2018 tepatnya di bulan desember aku mendapatkan gelar S.Pd yang aku impikan, yang membuat aku lebih percaya diri dan lebih berani bersuara memberikan pendapat yang selalu aku tahan, karena aku merasa belum saatnya aku bersuara dan selalu manut dengan semua pendapat para guru-guru hebat disana.
Mungkin terhitung 5 tahun sudah, aku menjadi seorang operator dan guru bahasa inggris di SDN Dukuh. SDN Dukuh ini adalah rumah kedua ku, disana banyak begitu cerita dan berbagai pengalaman dan pembelajaran yang mebuat aku berkembang disana, dari awal aku yang hanya seorang anak SMA yang terpaksa karena keadaan untuk bekerja disana, sekarang merasa bahwa pekerjaan itu adalah sebagai panggilan jiwa. Bukan hanya memberikan pelajaran tetapi akupun banyak belajar disana, belajar bagaimana cara aku untuk menjadi pribadi yang lebih percaya diri, belajar untuk memahami berbagai macam karakter manusia, belajar bagaimana membuat anak yang tidak bisa menjadi bisa, yang tidak tahu menjadi tahu, juga menguji tingkat kesabaran diri ini, apakah diri ini layak untuk di panggil Guru? karena menurutku, image guru ini menjadi penjagaan diri agar dimana pun aku berada, aku bisa menahan diri agar selalu berbuat baik yang akan di contoh oleh orang-orang di sekitarku.
Pada suatu ketika, aku harus menggantikan peran wali kelas dari seorang guru hebat yang sedang berjuang dengan rasa sakitnya. Beliau sudah aku anggap sebagai orang tuaku sendiri, karena dari beliau aku bisa berkaca bahwa mengajar dan mendidik generasi bangsa harus dengan rasa iklas dan tulus, karena apapun keadaan kita, yakinlah kita selalu dinanti kehadirannya oleh mereka yang haus akan ilmu, bahkan dalam keadaan sakit pun, beliau selalu mengusahakan dan memberikan yang terbaik untuk anak-anak didiknya. Yang pada akhirnya sampai saat ini tupoksiku berubah, diberikanlah kesempatan diri ini untuk mengembangkan kemampuan diri untuk menjadi seorang wali kelas. Walaupun tugas operator masih aku pegang, dan belum ada pengganti yang siap handle pekerjaan ini. Cukup berat memang membagi waktu antara tugas utama dengan tugas tambahan agar berjalan dengan seiras, tetapi jika dilakukan dengan penuh hati dan tanggung jawab pasti semuanya akan selesai dengan baik.
Tahun 2020, pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang perekrutan CPNS bagi guru. Sejak saat itu, harapan besar tumbuh dalam diri, diiringi usaha, doa, dan penantian yang tak pernah putus. Namun, perjalanan ini ternyata belum membawaku pada takdir yang kuimpikan. Mungkin bukan karena aku kurang berusaha, melainkan memang belum waktunya Allah menuliskan takdir itu untukku. Barangkali, ada jalan lain yang harus kutempuh, ada kesabaran yang harus kupelajari, dan ada hikmah yang belum sepenuhnya kupahami. Meski hingga hari ini seragam PNS belum menjadi bagian dari perjalananku, aku tak ingin berhenti berharap. Doa itu akan tetap kupanjatkan, ikhtiar akan terus kulakukan, dan keyakinan akan tetap kujaga. Aku percaya, setiap orang memiliki garis waktunya sendiri. Jika hari ini belum menjadi waktuku, semoga esok atau suatu hari nanti Allah menghadirkan kesempatan yang mampu mengubah nasib dan menjawab segala penantian. Sebab, menjadi PNS mungkin adalah salah satu impianku, tetapi mengabdi dengan tulus sebagai seorang guru adalah jalan yang tetap kupilih, bahkan ketika harapan itu belum menjadi kenyataan.
Hingga akhirnya, tahun 2023 menjadi salah satu titik balik dalam perjalanan hidupku. Setelah menikah dan memiliki seorang anak yang saat itu berusia dua tahun, Allah menghadirkan rezeki melalui kesempatan menjadi PPPK angkatan ketiga. Setelah kurang lebih sepuluh tahun mengabdi sebagai guru dengan tulus, menjalani hari-hari penuh perjuangan dengan upah yang serba terbatas, akhirnya aku bisa sedikit bernapas lega. Ada perubahan dalam ekonomi keluarga, ada ketenangan yang perlahan hadir, dan ada kebahagiaan yang tak ternilai ketika melihat orang tua bangga karena anaknya yang selama ini berjuang akhirnya mendapatkan kehidupan yang sedikit lebih baik. Kini aku menyadari, terkadang apa yang kita anggap sebagai akhir dari sebuah harapan justru menjadi awal dari jalan rezeki yang telah Allah siapkan. Aku mungkin tidak mendapatkan apa yang dahulu kuimpikan, tetapi aku mendapatkan kesempatan yang membawa perubahan besar bagi keluargaku.
Terima kasih, ya Allah, untuk perjalanan yang tidak selalu mudah, untuk penantian yang mengajarkanku arti kesabaran, dan untuk rezeki yang akhirnya datang pada waktu terbaik-Mu. Semoga setelah ini aku menjadi pribadi yang semakin bersyukur, tidak melupakan perjuangan masa lalu, dan semakin bertanggung jawab dalam menjalankan amanah sebagai seorang guru. Semoga aku selalu diberi kekuatan untuk mendidik dengan hati, mengajar dengan tulus, dan memberikan yang terbaik bagi anak-anak generasi penerus bangsa. Sebab, menjadi guru bukan sekadar tentang pekerjaan dan penghasilan, tetapi juga tentang pengabdian, keikhlasan, dan harapan yang kutitipkan dalam setiap anak yang kudidik. Sepuluh tahun mengabdi mengajarkanku arti bertahan. Perjalanan menuju PPPK mengajarkanku arti kesabaran. Dan rezeki yang kuterima hari ini mengajarkanku bahwa setiap perjuangan memiliki waktunya sendiri untuk berbuah. Alhamdulillah, bukan tentang seberapa cepat aku sampai, melainkan tentang bagaimana Allah membawaku sampai pada waktu yang tepat.






