Tiga Puluh Lima Tahun

kutukan itu lebih tua dari sebagian kami

diwariskan seperti nama keluarga

dari final ke final, dari kecewa ke kecewa

enam kali pulang membawa kata hampir

 

orang-orang tua bercerita tentang trofi

seperti bercerita tentang kampung halaman

yang sudah digusur

ada, tapi tak bisa lagi dikunjungi

 

lalu malam itu kutukan tidak patah oleh sihir

ia patah oleh sepatu

oleh napas yang habis seratus dua puluh menit

oleh keberanian berdiri di titik putih

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan