Buku Tulis Danu

Dua belas tahun kemudian, seorang laki-laki berseragam cokelat menunggu di gerbang sekolah sejak Subuh. Tangannya gemetar memeluk sebuah buku tulis lusuh.
“Ibu masih ingat saya?” suaranya patah. “Ada satu halaman yang harus Ibu baca. Tulisan Ibu sendiri.”
Seruni menahan napas. Ia tak ingat pernah menulis apa pun di buku itu. Atau, ia lupa pernah menuliskannya pada malam paling hancur dalam hidupnya.
Semuanya bermula dari sehelai kertas yang robek.
***

Formulir CPNS itu terbelah dua di tangan Seruni dan bunyinya memecah dapur yang sempit.
Sendok sayur di tangan Ibu Padma jatuh berdenting. “Selama 20 tahun Ibu menjahit baju orang sampai jari Ibu kapalan …,” katanya lirih dan justru kelirihan itu yang menikam, “supaya kamu punya hidup yang pasti dan kamu merobeknya di tanganku?”
“Aku ingin hidup yang kupilih sendiri, Bu.”
Ibu tak membalas. Ia berlutut, memunguti serpihan kertas satu per satu, seolah yang tercerai adalah mimpinya sendiri. Malam itu Seruni mendengar isak yang tertahan dari kamar sebelah dan isak itu lebih tajam dari seribu bentakan.
Seminggu kemudian Ibu pulang membawa sebuah nama. “Om Raksa. Bimbel kedinasan. Mereka butuh pengajar.”
Seruni tertawa getir. “Sejak kuliah aku menolak semua tawaran mengajar, Bu. Berdiri di depan orang lalu tak bisa menjawab. Aku tidak sanggup.”
“Itu bukan tidak sanggup.” Ibu menatapnya lurus. “Itu takut dan takut tak pernah selesai dengan cara lari.”
Kalimat itu menancap seperti paku. Esoknya, Seruni berbisik, “Sebulan saja, Bu.”
***

Di kelas pertama, lututnya bergetar di balik rok. Tiga puluh pasang mata menggantungkan masa depan pada seorang perempuan yang belum berdamai dengan ketakutannya sendiri. Kapur di jarinya basah.
Lalu, seorang anak di barisan depan mengangkat tangan. “Kak, kalau saya gagal terus, apa saya memang tidak berbakat?”
Namanya Danu. Di matanya yang berkaca-kaca, Seruni melihat dirinya sendiri yang selama ini bersembunyi di balik kalimat aku tidak suka mengajar.
“Tidak ada yang tak berbakat,” ucapnya dan suaranya mendadak teguh, “yang ada hanya belum menemukan caranya. Mari kita cari bersama.”
Sebulan menjadi setahun. Dari bimbel persiapan seleksi polisi dan tentara, lalu berlanjut ke bimbel seleksi PTN. Murid-murid memanggilnya, “Kak Seruni” dan menjadikannya pelabuhan. Ia menunggui mereka belajar hingga larut, membelikan gorengan, hafal nama adik-adik mereka. Ia tak lagi merasa mengajar. Ia merasa pulang.
Kabar-kabar bahagia berdatangan. Danu lolos. Bagas, yang dulu nyaris menyerah, kini bersepatu lars dan para alumni terus mengejutkannya.
“Kak, cara Kakak mengajari kerangka berpikir, saya pakai buat skripsi!”
“Kak, teknik surat resmi dari Kakak tak pernah lepad dari meja kerja saya.”
“Kak, tugas akhir saya selesai karena kalimat-kalimat Kakak di papan tulis.”
Seruni membaca pesan-pesan itu sambil menangis di kamar kos. Kata-kata yang ia tabur di ruang kelas sempit ternyata tumbuh menjadi pohon di tempat-tempat yang tak pernah ia kunjungi.
***
Lalu, badai datang dari arah yang paling tak terduga.
“Mulai bilan depan, kamu tak usah datang lagi,” kata Om Raksa tanpa menoleh, jarinya sibuk merapikan berkas.
“Om …, saya salah apa?”
“Tidak ada.” Barulah ia menatap, dingin. “Hanya saja, nama kamu sudah lebih besar dari nama bimbel ini.”
Dunia Seruni seperti dikuras. Lelaki yang mengantarnya pada panggilan hidupnya mengusirnya karena ia tak terlalu berhasil. Malam itu ua runtuh di pangkuan Ibu. Di meja belajar, dengan tangan yang masih gemetar, ia menulis sesuatu di buku tulis salah seorang murid yang tertinggal, lalu tertidur dalam tangis.
“Orang boleh mengambil mejamu, Nak,“ bisik Ibu sambil mengusap rambutnya, “tetapi ilmu yang tumbuh di kepalamu tak bisa dicabut siapa pun.”
Ibu benar. Pekan berikutnya, telepon berdering silih berganti. Bimbel ini, bimbel itu, semua memanggil. Murid-murid lamanya telah menjadi pengabar yang seria. Seruni tak menyia-nyiakan satu pun. Hati yang sudah jatuh cinta tak tahu jalan pulang.
***

Tahun-tahun berlalu, Seruni bertemu Yusuf, lelaku yang mendengar lebih banyak daripada berbicara. Mereka menikah di musim hujan dan bersamanya Seruni merasa punya pijakan untuk melompat lebih jauh.
“Ada sekolah swasta di Jakarta yang mencari guru,” kata Yusuf suatu malam.
“Aku yang dulu bersumpah tak akan mengajar di sekolah ….” jawab Seruni.
Yusuf tersenyum. “Kamu juga pernah bersumpah tak akan mengajar sama sekali.”
Seruni pun akhirnya mendaftar di sekoalh itu.
Di sekolah itu, ia menemukan penopang sekaligus ujian: kepala sekolah yang memercayainya dan tantangan memajukan literasi lewat berbagai ajang perlombaan. Seruni bukan pemburu piala. Ia lebih suka menanam pelan. Namun, ia pantang menyerah. Berbekal ilmu dari universitas terbaik negeri ini, ia membentuk klub menulis, menghidupkan sesi baca bersama, membimbing anak-anak satu per satu. Piala pertama datang di tahun kedua, disusul yang lain. Tanpa sadar, namanya sendiri ikut dielu-elukan di panggung guru berprestasi.
Namun, di rumah, sesuatu retak diam-diam.
“Pulang jam delapan lagi,” kata Yusuf, datar, dan datar itu lebih tajam daripada bentakan. “Aku merasa menikah dengan jadwal lomba.”
“Mas, ini juga demi kita.”
“Bukan. Ini demi murid-muridmu dan aku bangga. Tapi, aku juga ingin jadi alasanmu pulang.”
Pertengkaran menumpuk bagai batu di dada. Pernikahan mereka berdiri di ujung tanduk. Seruni teringat rumah tangga yang runtuh dari cerita ibu dan perpisahan yang disesali Rengganis seumur hidup.
“Jangan buru-buru melapas, Run,” kata Rengganis sambil menggenggam tangannya. “Kadang yang dibutuhkan bukan akhir, melainkan jeda.”
Seruni dan Yusuf pun berjeda. Seminggu Yusuf pergi. Di meja makan yang mendadak terlalu luas, Seruni mengingat alasan dulu iya berkata ya. Ketika Yusuf kembali, mereka hanya berpandangan, lalu meminta maaf pada detik yang sama.
***

Kini, di gerbang sekolah, Danu menyodorkan buku tulis itu.
Seruni membuka halaman pertama. Tulisan tangannya sendiri, miring dan basah bekas air mata dua belas tahun silam.
Jika kau takut, itu tanda kau sedang menuju sesuatu yang berharga. Jangan berhenti.
“Malam itu, buku ini tertinggal di bimbel,” Danu tersenyum, matanya merah. “Saya yang menemukan. Kalimat ini yang membuat saya tak menyerah di tes terakhir. Sekarang saya mengajari anak-anak desa, Bu. Ternyata menyenangkan jadi guru.”
Seruni terisak. Ia tak pernah tahu, di malam ia merasa paling dicampakkan, ia sedang menyelamatkan seseorang.
Selama menjadi guru, ia ternyata lebih banyak menjadi murid. Dari ibu, ia belajar menjadi perempuan yang tegar, tegas, dan tulus. Dari Om Raksa, yang melukainya, ia belajar menjaga ketulusan dan kesetiaan. Dari Yusuf, ia belajar pengorbanan, kepercayaan, kesabaran, dan keteguhan. Dari murid-muridnya, ia belajar tentang keberanian, keyakinan, dan kerja keras.
Sore itu, di luar gerbang, Yusuf menunggu dengan payung di tengah gerimis. Seruni melangkah ke arahnya. Perempuan yang dulu merobek formulir karena takut dan kini tahu bahwa takut hanyalah guru pertamanya.  
***

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan