KEMELUT DI KAKI RIMBA

Gerbang Menuju Kegelapan
Udara di pos pendakian Cidahu terasa seperti es yang disuntikkan langsung ke dalam paru-paru. Jarum jam menunjukkan pukul enam pagi, namun matahari seolah enggan menembus kanopi hutan Gunung Salak yang rapat. Kelana berdiri mematung di depan gapura kayu yang mulai lapuk, jemarinya yang kapalan menyesuaikan tali carrier 60 liternya yang terasa seberat dosa.
Di belakangnya, Bagas sedang sibuk membersihkan lensa kameranya dengan telaten, sementara Dina memeriksa ulang isi kotak P3K dan logistik mereka. Bagi pendaki umum, Salak mungkin hanya sebuah gunung dengan ketinggian 2.211 mdpl tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan Semeru atau Rinjani. Namun bagi Kelana, Salak adalah entitas hidup yang tidak pernah benar-benar membiarkan siapa pun merasa selamat di dalamnya. “Lan, cuaca di atas kelihatannya tidak bersahabat. Kabut sudah mulai turun ke lembah, padahal masih pagi,” suara Dina memecah keheningan. Ia menunjuk ke arah puncak yang tertutup gumpalan putih serupa kapas yang kotor. Kelana mengangguk pelan. “Salak memang selalu begitu, Din. Dia tidak suka diprediksi.”
Peringatan Sang Penjaga
Sebelum melangkah ke jalur setapak, mereka mampir ke warung terakhir untuk mengisi botol air. Pemilik warung itu adalah seorang kakek tua yang kulitnya tampak seperti kulit kayu pecah-pecah dan gelap. Namanya Abah Dadang.
Saat Kelana membayar beberapa bungkus baterai cadangan, Abah Dadang memegang pergelangan tangannya. Tenaga kakek itu luar biasa kuat untuk orang seusianya.
“Mau ke mana, Jang?” tanya Abah dengan suara parau yang terdengar seperti gesekan batu.
“Ke atas, Bah. Rencana lewat jalur lama, mau pemetaan jalur yang sudah tertutup,” jawab Kelana sopan.
Tatapan Abah Dadang mendadak kosong. Ia melirik Bagas yang sedang asyik memotret papan peringatan pendaki hilang. “Gunung Salak itu bukan tempat mencari nama, Jang. Di sana, yang gagah bisa jadi lemah, yang pintar bisa jadi linglung. Kalau nanti kalian mencium bau melati di tempat yang tidak ada bunganya, atau mendengar suara orang memanggil padahal tidak ada wujudnya… jangan menoleh. Teruslah jalan. Salak tidak mencari yang gagah, tapi yang tahu diri.”
Bagas hanya tertawa kecil mendengar ucapan itu. “Tenang Bah, kita bawa GPS paling canggih,” sahutnya sambil menepuk kantong jaketnya.
Namun Kelana tidak tertawa. Ia tahu, di gunung ini, sinyal satelit sering kali tunduk pada kehendak rimba.
Langkah Pertama di Hutan Hujan
Perjalanan dimulai. Langkah-langkah sepatu bot mereka berderap di atas tanah merah yang lembap. Satu jam pertama, medan masih berupa hutan pinus yang tertata. Cahaya matahari sesekali masih mampu mencium tanah, memberikan bayangan-bayangan panjang di antara pepohonan.
Namun, begitu mereka melewati batas hutan lindung, vegetasi berubah drastis. Pohon-pohon raksasa dengan akar papan yang mencuat setinggi manusia mulai mendominasi. Lumut hijau yang tebal menyelimuti batang pohon, menyerap suara hingga suasana menjadi sangat sunyi. Tidak ada kicauan burung. Hanya ada suara napas mereka yang memburu dan gesekan ranting yang terkena tas.
“Jalurnya sudah mulai hilang,” ujar Dina yang berada di posisi tengah. Ia memegang peta fisik dan kompas silva. “Vegetasinya terlalu rapat. Kelana, kau yakin ini jalur pendakian lama?”
Kelana menebas dahan berduri di depannya dengan parang pendek. “Ini jalur ‘pemburu’ tahun 80-an. Secara teknis sudah mati, tapi ini satu-satunya jalan menuju lembah purba di balik punggungan itu.”
Perubahan Atmosfer
Memasuki jam ketiga, keanehan mulai muncul. Suhu udara turun secara ekstrem. Bukan dingin yang menyegarkan, melainkan dingin yang lembap dan membuat kulit merinding. Bau tanah basah yang biasanya menenangkan, mendadak berganti dengan aroma anyir yang samar—seperti bau daging yang mulai membusuk namun tertutup wangi bunga bangkai.
“Lan, berhenti sebentar,” pinta Bagas. Wajahnya berkeringat meski udara dingin. “Aku merasa… seperti ada yang mengikuti kita sejak tadi. Di atas pohon.”
Kelana berhenti. Ia menajamkan pendengarannya. Hanya ada suara tetesan air dari daun-daun lebar yang jatuh ke tanah. Pluk. Pluk. Namun, saat ia diam, ia mendengar suara dahan patah dari arah belakang, sangat jauh, namun terasa berat. Seolah ada sesuatu yang besar sedang mengintai dari balik kabut yang mulai merangkak naik dari dasar jurang.
“Hanya musang atau babi hutan, Gas. Fokus pada langkahmu,” ujar Kelana menenangkan, meski ia sendiri mulai merasakan detak jantungnya yang tidak beraturan.
Titik Tanpa Kepulangan
Mereka sampai di sebuah tanjakan yang dikenal dengan sebutan “Tanjakan Setan”. Sudut kemiringannya hampir 80 derajat, penuh dengan akar pohon yang licin dan tanah yang mudah longsor. Di titik ini, awan hitam mulai menggulung di langit.
Saat Kelana mencapai bibir tanjakan, ia menoleh ke bawah. Kabut telah menelan jalur yang baru saja mereka lalui. Jalur pulang telah hilang ditelan putihnya kabut. Mereka kini berada di wilayah “abu-abu” perbatasan antara dunia pendaki dan dunia yang tidak tercatat dalam peta manusia.
“Kita tidak bisa kembali sekarang,” gumam Kelana sambil melihat jam tangannya yang mendadak mati total. Jarum detiknya berhenti di angka dua belas. “Hanya ada satu jalan, yaitu maju ke depan.”
Dina dan Bagas menyusul ke atas dengan napas tersengal. Mereka berdiri di sana, di ambang ketidakpastian, sementara dari jauh terdengar suara petir yang menggelegar, namun suaranya aneh lebih menyerupai tawa yang dalam dari perut bumi. Mereka mulai menyadari bahwa kompas Dina mulai bergetar tidak wajar, dan hutan di depan mereka tampak tidak lagi hijau, melainkan hitam pekat seolah cahaya telah dihisap habis oleh lembah di depan mereka.

LABIRIN PUTIH DAN SUARA DARI MASA LALU
Hilangnya Sang Penunjuk Arah

Dunia di sekitar mereka mendadak mengecil. Kabut yang tadi hanya menggantung di puncak, kini turun dengan kecepatan yang tidak masuk akal, menelan pepohonan, menelan jalur, dan hampir menelan sosok Dina yang hanya berjarak tiga meter di belakang Kelana.
“Lan! Berhenti! Aku tidak bisa melihat punggungmu!” teriak Dina. Suaranya terdengar aneh, seolah teredam oleh dinding busa yang tebal.
Kelana segera menghentikan langkah. Ia merasakan sensasi vertigo yang hebat. Tanpa garis cakrawala atau pepohonan sebagai patokan, keseimbangannya goyah. Ia segera merogoh ranselnya, mengeluarkan tali webbing merah sepanjang lima meter.
“Dina, Bagas, mendekat! Pegang tali ini. Ikat ke sabuk kalian!” perintah Kelana. Tangannya sedikit gemetar saat menyimpul tali tersebut. Ini bukan lagi sekadar pendakian; ini adalah prosedur darurat.
Dina mendekat dengan wajah pucat. Ia mengangkat kompas silva yang tergantung di lehernya. “Lan, lihat ini…”
Jarum kompas itu tidak lagi menunjuk ke arah Utara. Jarum magnet itu berputar-putar seperti gasing yang kehilangan keseimbangan, kadang bergetar hebat, lalu berputar balik ke arah berlawanan. Fenomena anomali magnetik Gunung Salak yang sering diceritakan para pendaki senior kini terjadi tepat di depan mata mereka.
“GPS-mu, Gas! Cepat cek!” seru Kelana.
Bagas mengeluarkan perangkat GPS genggamnya. Layar digital itu berkedip-kedip sebelum akhirnya menampilkan pesan ‘Searching for Satellites…’ yang tak kunjung hilang. “Mati, Lan. Sinyalnya terblokir total. Padahal tadi baterainya penuh, sekarang indikatornya merah.”
Gema yang Menyesatkan
Mereka terjebak di sebuah dataran landai yang dipenuhi pohon-pohon cantigi yang kerdil dan bengkok. Dalam kabut, pohon-pohon itu tampak seperti siluet orang-orang yang sedang membungkuk kesakitan. Kesunyian di tempat itu begitu pekat, hingga suara detak jantung Kelana terdengar seperti dentuman drum di telinganya sendiri.
“Kita harus tetap bergerak, atau kita akan terkena hipotermia,” kata Kelana mencoba rasional. “Kita ikuti punggungan ini ke arah bawah. Secara logika, aliran air akan membawa kita ke sungai, dan sungai akan membawa kita ke pemukiman.”
Namun, baru saja mereka melangkah sepuluh meter, sebuah suara memecah kesunyian.
“Bagas… Bagas… sini, Nak…”
Langkah Bagas terhenti seketika. Tubuhnya menegang. “Kalian dengar itu?”
“Dengar apa?” tanya Dina dengan nada waspada.
“Itu suara Ibu. Jelas sekali. Dia memanggilku dari arah sana,” Bagas menunjuk ke arah kanan, ke dalam kabut yang sangat pekat di mana hanya terlihat bayangan hitam pepohonan.
“Jangan bodoh, Gas! Ibumu ada di Jakarta,” bentak Kelana sambil mencengkeram bahu Bagas. “Itu fenomena auditory illusion. Angin yang melewati celah tebing bisa menghasilkan frekuensi yang mirip suara manusia. Jangan didengarkan!”
“Bagas… Ibu di sini, Ibu kedinginan…” suara itu kembali terdengar, kali ini lebih merintih, lebih emosional.
Bagas mulai meronta. Matanya tampak kosong, seolah jiwanya tidak lagi berada di sana. “Dia butuh bantuan, Lan! Lepaskan aku!”
PLAK!
Kelana mendaratkan tamparan keras di pipi Bagas. Napas Bagas terengah-engah, matanya kembali fokus. Ia memegangi pipinya yang panas, lalu melihat ke sekeliling dengan ketakutan yang murni.
“Jangan pernah menoleh ke arah suara itu, Gas. Ingat pesan Abah Dadang tadi pagi? Gunung ini sedang menguji apa yang ada di dalam kepalamu,” bisik Kelana tajam.
Terperangkap di Lembah Mati

Mereka melanjutkan perjalanan dengan formasi yang lebih rapat. Kelana di depan menebas semak, Dina di tengah menjaga tali, dan Bagas di belakang dengan wajah tertunduk. Jalur yang mereka lalui semakin tidak masuk akal. Tanah yang mereka pijak terasa empuk seperti tumpukan mayat, tertutup lumut tebal yang menyerap setiap bunyi langkah kaki.
Setiap kali mereka merasa telah berjalan turun, mereka justru menemukan diri mereka kembali ke sebuah pohon besar yang sama sebuah pohon tumbang yang akarnya menyerupai cakar raksasa.
“Kita berputar-putar,” isak Dina. “Kita sudah melewati pohon ini tiga kali, Lan. Kita terjebak di Labirin.”
Kelana terdiam. Ia melihat jam tangannya. Masih menunjukkan pukul dua belas. Waktu seolah berhenti di tempat ini. Kabut di sekitar mereka tidak lagi berwarna putih, melainkan berubah menjadi kuning pucat yang membawa aroma kemenyan dan bunga kamboja yang menyengat.
“Tutup hidung kalian dengan slayer!” perintah Kelana. “Ini gas sulfur, atau mungkin sesuatu yang lain.”
Tiba-tiba, kabut di depan mereka tersibak sedikit, memperlihatkan sebuah celah sempit di antara dua dinding batu raksasa yang tampak seperti gerbang alami. Di balik gerbang itu, sayup-sayup terdengar suara yang sangat tidak mungkin ada di tengah hutan perawan: suara dentingan piring dan tawa rendah beberapa orang.
Cahaya yang Salah

“Ada perkampungan di depan?” tanya Bagas dengan harapan yang naif.
“Di ketinggian ini? Tidak mungkin,” jawab Dina sambil memeluk tasnya erat-erat.
Kelana maju selangkah, parangnya disiagakan di depan dada. Melalui celah batu itu, ia melihat keremangan cahaya obor. Bukan cahaya lampu senter atau lampu LED, melainkan api yang menari-nari ditiup angin.
Anehnya, meskipun mereka kedinginan dan basah kuyup oleh kabut, udara yang berhembus dari balik celah batu itu terasa hangat, membawa aroma nasi hangat dan sambal terasi yang menggoda perut mereka yang kosong.
“Kita tidak punya pilihan lain,” bisik Kelana. “Kita tidak bisa bertahan di luar sini saat malam tiba dengan kondisi basah begini. Tapi dengarkan aku baik-baik: Jika itu benar-benar perkampungan, jangan makan apa pun yang ditawarkan. Jangan bicara kecuali aku yang bicara. Dan yang paling penting, jangan pernah melepaskan tali webbing ini dari tubuh kalian.”
Dengan hati yang dipenuhi firasat buruk, Kelana memimpin mereka melintasi celah batu tersebut. Saat kaki mereka menginjak sisi lain, kabut di belakang mereka menutup dengan suara dentuman pelan, seolah pintu penjara baru saja dikunci.
Di depan mereka, terhampar sebuah desa yang indah, namun terlalu sempurna untuk menjadi nyata. Sebuah desa yang tidak ada dalam peta mana pun, tersembunyi di dalam pelukan angker Gunung Salak.
PERJAMUAN DI DESA TANPA JEJAK
Keindahan yang Ganjil

Begitu melewati celah batu raksasa itu, udara dingin yang menusuk tulang mendadak berganti dengan kehangatan yang janggal. Kabut kelabu yang menyesakkan sirna, digantikan oleh suasana senja abadi yang berwarna jingga keemasan. Di hadapan Kelana, Dina, dan Bagas, terbentang sebuah lembah tersembunyi yang tak mungkin ada dalam catatan geografis manapun.
“Ini… tidak mungkin,” bisik Dina. Tangannya gemetar hebat, namun bukan karena dingin. “Kita seharusnya berada di lereng curam, tapi tempat ini datar sempurna.”
Di depan mereka berjajar belasan rumah panggung kayu dengan ukiran yang sangat rumit dan indah. Atap-atapnya terbuat dari ijuk hitam yang tersusun rapi. Tidak ada tiang listrik, tidak ada sampah plastik, bahkan tidak ada jejak teknologi sekecil apa pun. Jalanan desa itu terbuat dari batu kali yang pipih dan bersih, seolah setiap pagi ada yang menyikatnya.
Beberapa orang tampak berlalu-lalang. Mereka mengenakan pakaian tradisional berbahan tenun kasar berwarna gelap. Pria-prianya mengenakan ikat kepala, dan wanita-wanitanya menyanggul rambut dengan selipan bunga melati yang aromanya memenuhi seluruh lembah.
“Lan, lihat kamera-ku!” Bagas berbisik panik. Ia mencoba menyalakan kamera DSLR-nya, namun layarnya hanya menampilkan garis-garis statis seperti televisi rusak, sebelum akhirnya mati total dengan suara klik yang memilukan.

Tuan Rumah yang Tidak Menapak

Seorang pria tua keluar dari rumah terbesar yang berada di tengah desa. Ia berjalan ke arah mereka dengan langkah yang sangat halus terlalu halus. Kelana menajamkan matanya, memperhatikan bagian bawah kain hitam yang dikenakan pria itu.
Darah Kelana terasa membeku. Pria itu tidak menggunakan alas kaki, dan kakinya tidak memiliki lekukan tumit; rata dan lurus dari depan ke belakang. Langkahnya tidak menimbulkan suara sedikit pun di atas batu kali.
“Selamat datang, para pengelana,” suara pria itu terdengar bergema, seolah-olah ia bicara langsung di dalam kepala mereka, bukan melalui udara. “Kalian pasti lelah. Salak sedang marah di luar sana, tapi di sini, kalian aman.”
Kelana menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya. Ia ingat pesan Abah Dadang: Jangan menoleh, jangan bicara berlebihan, tahu diri.
“Terima kasih, Abah,” jawab Kelana dengan nada sesopan mungkin, sambil membungkukkan badan. “Kami hanya pendaki yang tersesat karena kabut. Kami hanya ingin numpang lewat.”
Pria tua itu tersenyum, namun senyumnya tidak mencapai matanya yang bening namun kosong. “Lewatlah setelah makan. Tidak ada yang meninggalkan desa ini dengan perut kosong.”
Godaan di Atas Meja
Mereka dituntun menuju sebuah pendopo terbuka. Di atas meja kayu panjang, telah tersaji hidangan yang tampak sangat lezat: nasi putih yang mengepulkan asap, ayam bakar dengan bumbu merah yang mengkilap, dan buah-buahan hutan yang ukurannya dua kali lipat dari ukuran normal.
Perut Bagas berbunyi nyaring. Aroma masakan itu seolah-olah mencengkeram lambungnya. Ia sudah mengulurkan tangan menuju sebuah paha ayam yang besar.
“Bagas! Berhenti!” bentak Kelana pelan namun penuh penekanan.
Bagas tersentak, tangannya menggantung di udara. “Tapi Lan, aku lapar sekali. Kita belum makan sejak pagi.”
“Ingat apa yang kukatakan, Gas,” bisik Kelana tajam, matanya melirik ke arah warga desa yang kini berdiri diam di pinggiran pendopo, semuanya menatap ke arah mereka dengan tatapan tanpa kedip. “Sekali kau menelan makanan mereka, kau akan menjadi bagian dari mereka. Kau tidak akan bisa pulang.”
Dina menarik napas pendek. Ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Meskipun ada banyak hidangan panas, tidak ada satu pun lalat yang hinggap. Udara di sekitar meja itu pun tidak memiliki berat; uap nasi yang mengepul naik lurus ke atas tanpa tertiup angin, seolah-olah itu adalah lukisan diam yang dipaksakan menjadi nyata.
Gamelan Pemanggil Jiwa

Tiba-tiba, suara dentuman gong terdengar dari kejauhan, diikuti oleh irama gamelan yang cepat dan beradu. Iramanya tidak harmonis seperti musik tradisional pada umumnya, melainkan terdengar liar, mendebarkan, dan seolah-olah menyuruh kaki untuk menari tanpa henti.
Warga desa mulai bergerak melingkar. Mereka menari dengan gerakan patah-patah yang ganjil. Pria tua itu kembali mendekat, kali ini membawa sebuah cawan perak berisi cairan merah pekat.
“Minumlah sedikit. Ini hanya air dari akar pohon,” ucapnya.
Kelana merasakan tekanan batin yang luar biasa. Atmosfer desa itu mendadak berubah dari hangat menjadi menyesakkan. Cahaya jingga matahari mulai meredup, berganti dengan cahaya ungu gelap yang menyeramkan. Bayangan rumah-rumah panggung itu memanjang, berubah bentuk menjadi tangan-tangan hitam yang seolah ingin menggapai mereka.
“Kami sangat menghargai tawaran Abah, tapi kami harus segera pergi sebelum malam benar-benar jatuh,” ujar Kelana tegas. Ia mencengkeram tali webbing yang masih mengikat mereka bertiga, menarik Dina dan Bagas untuk berdiri.
Warga desa berhenti menari. Suara gamelan mendadak bungkam. Kesunyian yang tercipta jauh lebih menakutkan daripada suara musik tadi.
“Kalian menolak pemberian kami?” suara pria tua itu berubah, menjadi berat dan parau, seperti suara batu yang saling bergesekan.

Pelarian Melalui Gerbang Ghaib

“Lari!” teriak Kelana.
Ia tidak lagi memedulikan sopan santun. Ia menarik tali webbing dengan sekuat tenaga, menyeret Bagas yang masih setengah terhipnotis oleh aroma makanan. Mereka berlari ke arah gerbang kayu di ujung desa, namun jalan setapak berbatu itu seolah memanjang secara ajaib. Setiap kali mereka melangkah maju, gerbang itu tampak menjauh.
“Jangan lihat ke belakang! Fokus pada tali ini!” teriak Kelana lagi.
Dina mulai menangis, namun kakinya terus berlari. Di belakang mereka, warga desa mulai mengejar, bukan dengan berlari, melainkan dengan melayang rendah di atas tanah, tangan-tangan mereka yang pucat terjulur ke depan.
Tepat saat Kelana mencapai ambang gerbang, ia merasakan sebuah tangan dingin mencengkeram ranselnya. Ia merogoh saku samping tasnya, mengambil botol air mineral yang sudah didoakan (sebagai syarat pendakian yang diberikan kakeknya dulu) dan menyiramkannya ke arah belakang tanpa menoleh.
Sebuah jeritan melengking yang bukan suara manusia memecah udara. Cengkeraman itu terlepas.
Mereka bertiga melompat melewati gerbang kayu tersebut. Detik berikutnya, sensasi jatuh menghantam mereka. Rasa hangat desa lenyap seketika, digantikan oleh hantaman udara es dan rintik hujan yang tajam seperti jarum.
Mereka terjerembap di atas tanah berlumpur yang dingin. Saat Kelana menyalakan senter kepalanya, ia menyadari mereka berada di bibir jurang yang sangat curam. Satu meter lagi mereka melangkah di dalam “desa” tadi, mereka akan terjun bebas ke dasar lembah yang mematikan.
Desa itu hilang. Tidak ada rumah, tidak ada cahaya obor, tidak ada aroma melati. Hanya ada hutan gelap yang basah dan suara angin yang melolong di antara pepohonan, seolah-olah gunung itu sedang menggeram karena mangsanya baru saja lolos.

NYANYIAN BADAI DAN KOIN PENANDA
Realitas yang Menyakitkan

Kelana terbatuk, paru-parunya terasa seperti terbakar saat menghirup udara dingin yang mendadak kembali normal. Ia merayap mundur dari bibir jurang Cikuluwung, menyeret Dina dan Bagas yang masih terguncang. Bau wangi melati telah lenyap, berganti dengan bau menyengat ozon dan tanah yang diguyur hujan lebat.
“Bangun! Kita tidak boleh diam di sini!” teriak Kelana di tengah deru angin.
Dina gemetar hebat. Giginya bergelatuk keras tanda awal hipotermia. “Lan… desa tadi… mereka… mereka tidak punya wajah saat kita lari,” isaknya.
Kelana tidak menjawab. Ia tahu jika mereka membahas apa yang baru saja terjadi, kewarasan mereka akan runtuh. Ia memeriksa senter kepalanya yang sinarnya mulai meredup. Cahaya itu memantul di antara rintik hujan yang kini berubah menjadi badai vertikal. Gunung Salak seolah sedang berusaha mencuci bersih jejak keberadaan mereka dari punggungnya.
Beban yang Tak Terlihat
Saat mencoba berdiri, Bagas mengerang kesakitan. Ia memegangi tangan kanannya yang terkepal erat.
“Gas, kau terluka?” tanya Kelana sambil mendekat.
Bagas perlahan membuka kepalannya. Di telapak tangannya yang pucat dan keriput karena dingin, tergeletak sebuah koin perak kuno. Koin itu tidak memiliki lubang di tengahnya, melainkan ukiran kepala harimau yang sangat detail di satu sisi dan simbol matahari di sisi lainnya.
“Aku tidak tahu… sejak kapan koin ini ada di tanganku,” bisik Bagas. suaranya parau. “Rasanya berat sekali, Lan. Seperti aku sedang menggenggam sebongkah timah panas.”
Kelana menatap koin itu dengan ngeri. Ia teringat cerita para tetua tentang ‘oleh-oleh’ dari alam sebelah. Barang siapa yang membawa benda dari sana, ia telah terikat kontrak. “Buang, Gas! Buang sekarang!”
Bagas mencoba melempar koin itu ke jurang, namun tangannya seolah kaku. Koin itu seakan menempel pada kulitnya. “Tidak bisa! Tanganku tidak mau terbuka!”
Navigasi Batin di Jalur Teknis

Tanpa GPS dan kompas yang masih berputar gila, mereka hanya memiliki satu pilihan: mengikuti insting navigator Dina. Dina, meskipun ketakutan, mulai memaksa otaknya bekerja. Ia melihat ke arah pepohonan.
“Lihat lumutnya,” ujar Dina dengan suara bergetar. “Lumut di sisi pohon ini lebih tebal. Ini arah Barat. Jika kita terus ke Barat Daya, kita seharusnya memotong jalur pendakian resmi di bawah Puncak Dua.”
Mereka mulai merayap di medan teknis yang mengerikan. Tanah merah Gunung Salak yang terkenal licin kini berubah menjadi bubur lumpur. Mereka harus melakukan desending (turun tebing) secara darurat tanpa tali pengaman yang memadai, hanya mengandalkan akar-akar pohon yang menonjol.
Setiap kali mereka berhenti untuk mengatur napas, suara-suara aneh kembali terdengar. Bukan lagi suara manusia, melainkan suara gesekan kayu yang menyerupai bisikan, “Kembalikan… kembalikan…”
Kelana menyadari bahwa suhu tubuh Bagas turun lebih cepat dari mereka berdua. Kulit Bagas mulai membiru, dan koin di tangannya mengeluarkan uap dingin yang aneh. “Koin itu menghisap panas tubuhmu, Gas! Kita harus sampai ke jalur utama sebelum kau kehilangan kesadaran!”

Jembatan Akar yang Runtuh

Mereka tiba di sebuah celah aliran sungai kecil yang meluap menjadi air terjun dadakan. Untuk menyeberang, mereka harus melewati jembatan akar alami yang melintang di atas jeram setinggi sepuluh meter.
Kelana menyeberang lebih dulu, memastikan kekuatannya. Lalu Dina. Saat giliran Bagas, koin di tangannya mendadak bergetar hebat. Suara raungan harimau yang sangat keras mengguncang lembah, meskipun tidak ada wujud hewannya.
Kejadian itu mengejutkan Bagas hingga ia terpeleset. “Lan!” jeritnya.
Tubuh Bagas menggantung di tepi akar, hanya tertahan oleh tali webbing yang masih terikat di pinggang Kelana dan Dina. Kelana dan Dina segera memasak kaki mereka di tanah, menahan beban Bagas yang mendadak terasa tiga kali lebih berat dari biasanya.
“Tanganmu, Gas! Pegang akarnya!” teriak Kelana.
“Berat! Koin ini menarikku ke bawah!” Bagas berteriak histeris.
Dalam kepanikan itu, Kelana melihat bayangan hitam besar berkelebat di bawah jembatan, menunggu di dalam kegelapan jeram. Tanpa pikir panjang, Kelana mengeluarkan pisau lipatnya. Bukan untuk memotong tali, melainkan untuk melukai telapak tangannya sendiri. Ia meneteskan darahnya ke arah tangan Bagas yang memegang koin.
Begitu darah Kelana menyentuh koin perak itu, terdengar suara desisan seperti besi panas yang dicelupkan ke air. Cengkeraman koin itu melemah, dan Bagas berhasil melepaskannya. Koin itu jatuh ke dalam kegelapan jeram, menghilang bersama suara geraman yang kecewa.

Titik Terang di Ujung Harapan

Dengan sisa tenaga yang ada, mereka menarik Bagas ke atas. Tanpa beban koin itu, Bagas perlahan kembali mendapatkan kesadarannya, meskipun kondisinya sangat lemah.
Mereka terus merangkak melewati hutan yang seolah tak berujung, hingga akhirnya, Dina melihat sesuatu yang sangat indah: sebuah pita plastik kuning yang terikat di pohon. Marker jalur pendakian resmi.
“Jalur! Itu jalur resmi!” teriak Dina sambil menangis bahagia.
Mereka jatuh tersungkur di atas jalur setapak yang padat. Meskipun masih jauh dari pos bawah, setidaknya mereka tidak lagi berada di wilayah ‘tak terlihat’. Namun, saat Kelana menoleh ke arah hutan gelap yang baru saja mereka tinggalkan, ia melihat sepasang mata berwarna kuning keemasan menatap mereka dari balik kabut, sebelum akhirnya meredup dan hilang.
“Jalan,” bisik Kelana sambil memapah Bagas. “Jangan menoleh lagi. Sampai kita benar-benar menginjak aspal.”

GEMA YANG TERTINGGAL
Fajar yang Pucat

Cahaya kelabu mulai menyusup di sela-sela batang pohon saat mereka mencapai Pos IV. Hujan telah reda, menyisakan tetesan air yang jatuh dari daun-daun tinggi, terdengar seperti suara langkah kaki yang mengikuti mereka dari kejauhan. Tak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Suasana traumatis dari Lembah Mati masih menggelayut lebih berat daripada beban carrier di punggung mereka.
Bagas berjalan dengan menyeret kaki, dipapah oleh Kelana. Wajahnya masih pucat pasi, namun binar matanya perlahan kembali. Di telapak tangannya, bekas koin perak itu meninggalkan tanda merah permanen berbentuk lingkaran sempurna—sebuah luka bakar yang tidak terasa perih, melainkan dingin.
Saat mereka melewati warung Abah Dadang di kaki gunung, sang kakek sedang menyapu teras. Ia berhenti menyapu, menatap mereka bertiga dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia tidak bertanya mengapa mereka pulang dengan kondisi hancur, atau mengapa mereka tiba di waktu yang tidak wajar.
Abah Dadang hanya mengangguk pelan saat Kelana berpapasan dengannya. “Kalian sudah membayar harganya,” gumam kakek itu lirih, hampir tertutup suara angin pagi.
Dunia yang Terasa Asing

Begitu menginjakkan kaki di aspal tempat parkir, sensasi aneh menghantam Kelana. Suara mesin motor, tawa pendaki lain yang baru mau naik, dan bunyi klakson di kejauhan terasa begitu bising dan menyakitkan telinga. Baginya, dunia nyata terasa seperti panggung sandiwara yang tipis.
Mereka segera masuk ke dalam mobil. Dina langsung tertidur karena kelelahan yang luar biasa, sementara Bagas hanya menatap kosong ke luar jendela, ke arah puncak Gunung Salak yang kini terlihat bersih tanpa kabut, berdiri megah dan acuh tak acuh di bawah sinar matahari pagi.
“Gas, kau baik-baik saja?” tanya Kelana sambil menyalakan mesin.
Bagas membuka telapak tangannya, menatap tanda lingkaran itu. “Lan… aku masih bisa mendengarnya. Suara gamelan itu. Suaranya tidak ada di luar, tapi ada di dalam sini,” ia menunjuk kepalanya sendiri. “Dan koin itu… aku merasa koin itu tidak benar-benar jatuh ke jurang.”
Kelana terdiam. Ia merogoh saku jaketnya dan menemukan sesuatu yang membuatnya merinding. Di dalam saku yang seharusnya kosong, terdapat selembar daun kamboja hitam yang kering dan harum melati yang sangat kuat.

Dokumentasi yang Hilang

Satu minggu setelah kejadian itu, mereka berkumpul di rumah Kelana untuk mencoba menyelamatkan data foto dari kamera Bagas. Mereka berharap ada penjelasan logis atas apa yang mereka lihat.
Bagas menghubungkan kartu memori kameranya ke komputer. Mereka menahan napas saat folder foto terbuka. Namun, harapan itu pupus.
Semua foto yang diambil sejak mereka memasuki kabut hingga kembali ke jalur resmi hanya menampilkan gambar statis butiran “semut” hitam putih yang bergerak-gerak. Namun, di satu file video terakhir yang terekam secara tidak sengaja saat mereka lari dari desa, tidak ada gambar sama sekali. Hanya ada suara.
Lewat speaker laptop, terdengar suara napas mereka yang memburu, langkah kaki yang berat di atas lumpur, dan tiba-tiba… sebuah suara bisikan ribuan orang yang berbicara serentak dalam bahasa yang tak dikenal, diikuti oleh suara tawa pria tua yang mereka temui di desa.
Dina segera mematikan laptop tersebut. “Cukup. Hapus semuanya, Gas. Jangan pernah kita bahas lagi.”

Penghormatan Terakhir

Kelana kembali ke rutinitasnya di kota, namun ia tidak lagi sama. Ia tidak lagi ambisius untuk menaklukkan puncak-puncak baru. Kini, setiap kali ia melihat gunung dari kejauhan, ia tidak melihatnya sebagai tumpukan batu dan pohon, melainkan sebagai sebuah gerbang.
Ia menyadari bahwa manusia hanyalah tamu yang sering kali tidak tahu sopan santun di rumah yang bukan miliknya. Gunung Salak tidak angker karena ia jahat; ia hanya menjaga apa yang seharusnya tetap tersembunyi dari keserakahan manusia.
Di malam-malam tertentu, saat udara kota menjadi dingin dan sunyi, Kelana sering terbangun karena mencium aroma nasi hangat dan bunga melati. Ia akan duduk di teras rumahnya, menatap ke arah selatan di mana bayangan Gunung Salak berdiri kokoh di balik kegelapan.
Ia tahu, sebagian dari jiwanya dan jiwa teman-temannya mungkin masih tertinggal di Lembah Mati, menari bersama bayangan tanpa tumit di bawah irama gamelan yang tak pernah berhenti.
Penutup

Petualangan itu berakhir bukan dengan kemenangan, melainkan dengan pemahaman. Bahwa di atas sana, di antara kabut dan hutan lumut, ada hukum yang lebih tua dari peradaban manusia.
Kelana mengambil daun kamboja hitam yang ia temukan di sakunya, lalu membakarnya dengan pemantik. Saat asapnya membubung, ia berbisik pelan, “Terima kasih sudah diizinkan pulang.”
Di kejauhan, seolah menjawab, petir menyambar di puncak Salak meskipun langit sedang cerah. Gema suaranya memantul di lembah-lembah tersembunyi, mengingatkan siapa pun yang mendengar bahwa sang penguasa rimba masih di sana, menunggu pendaki berikutnya yang cukup berani atau cukup bodoh untuk mengetuk pintunya.
Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan