
Fajar di Atas Supra X-125 (Jejak Perjuangan Seorang Guru)
Jarum speedometer Honda Supra X 125 itu bergetar pelan di angka 70 km/jam, seolah ikut merasakan lelah tuannya. Di bawahnya, aspal yang mulus mulai berganti menjadi kerikil kecil, lalu berubah menjadi lubang-lubang yang dalam. Aku, seorang ayah dengan 3 orang anak yang mendapatkan anugrah sekaligus amanah pengabdian sebagai seorang guru.
Perjalanan 70 kilometer dan durasi 90 menit bahkan lebih ini sudah menjadi ritual harianku selama lima tahun terakhir. Dari rumah sederhana namun menjadi istana yang nyaman di pinggiran kota, menuju sekolah yang secara geografis tidaklah berada pada Kawasan terpencil. Kendati bukan daerah terpencil, namun akses menuju kesana terkadang memacu adrenalin dalam mengarunginya. Walaupun di lain sisi, terdapat akses yang cukup baik namun membutuhkan durasi tempuh yang cukup lama.
Medan Juang Menuju Kelas
Musim hujan adalah adalah tantangan berat. Jalan yang seharusnya menjadi penghubung, berubah menjadi lautan lumpur. Roda motor seringkali terperosok, memaksaku mendorong dengan sepatu yang perlahan-lahan tenggelam. Pagi ini, setelah 13 kilometer terakhir yang penuh perjuangan, aku tiba di sekolah dengan kondisi yang tak jauh berbeda. Sepatu hitamku kini cokelat pekat oleh lumpur, celana panjangku bercipratan hingga lutut. Tapi tak ada waktu untuk mengeluh. Lonceng pertama akan segera berbunyi.
Musim kemarau membawa cerita lain. Debu tebal menyelimuti jalan, membuat setiap kendaraan yang melintas meninggalkan jejak awan cokelat. Aku seringkali tiba dengan wajah dan pakaian yang sama kelabunya dengan jalanan yang baru saja kutempuh. Tapi anehnya, melihat senyum siswa-siswaku, semua lelah itu seolah menguap begitu saja.
Wajah-Wajah yang Menanti
“Selamat pagi, Pak!” sapa Rara dengan gaya semnagat yang tak pernah pudar. Gadis berusia 11 tahun itu selalu datang lebih awal, membantu membersihkan meja dan kursi sebelum temannya yang lain tiba. Di matanya, aku melihat cahaya yang sama dengan yang kudapatkan dari keluarga di rumah cahaya harapan.
Qim, si pemalu yang duduk di pojok belakang, perlahan mengangkat tangannya. “Pak, saya sudah mengerjakan soal yang di berikan kemarin,” katanya dengan suara lirih. Progress kecil seperti ini adalah bahan bakar yang membuatku terus melaju, meski motor tua ini mulai rewel.
Rama, yang terkenal dengan keisengannya, kali ini datang dengan wajah serius. “Pak, motor Bapak bunyi lagi? Saya dengar tadi,” tanyanya dengan kepedulian yang tulus. Aku hanya tersenyum. Supra X 125 ini memang sudah menemaniku lebih dari sepuluh tahun. Termasuk dalam perjuangan untuk menjadi seorang abdi negara, kendaraan iniulah yang setia menemaniku. Guncangan jalan yang keras setiap hari membuatnya semakin tua, tapi selama mesin masih bisa menyala, aku akan terus menggunakannya.
Cinta yang Membagi Waktu
Di rumah, istri dan ketiga anakku menanti dengan sabar. Mereka memahami bahwa pengabdianku bukan hanya untuk siswa-siswa di sekolah, tapi juga untuk masa depan mereka. Setiap rupiah yang masuk kesakuku hasil keringat dari mengajar, diharapkan dapat memberikan kehidupan yang lebih baik untuk keluarga. Tapi lebih dari itu, perjuangan dan pengabdian yang aku jalani hari ini kelak akan difahami oleh anak-anakku.
“Kenapaki’ tidak pindah saja ke sekolah yang lebih dekat?” tanya istriku dengan dialeg khas daerah kami pada suatu malam, saat aku pulang dengan tubuh yang lelah dan pakaian yang lusuh.
Aku menatap matanya dalam-dalam. “Karena di sana ada ratusan anak yang membutuhkan guru. Jika aku pergi, siapa yang akan mengajar mereka? Perjalanan 70 kilometer ini memang berat, tapi cintaku pada keluarga dan pengabdianku pada Negara membuat semuanya terasa ringan.
Bagiku, rutinitas yang kujalani bukanlah sebuah pekerjaan, namun lebih pada hoby. Ketika rutinitas dipandang sebagai sebuah pekerjaan maka yang terasa hanyalah beban, namun ketika ia dipandang sebagai sebuah hobi maka yang akan terasa adalah kenyamanan.
Hujan dan Lumpur Tak Menghalangi
Hari ini hujan turun dengan deras. Jalanan yang biasanya berdebu, kini berubah menjadi sungai lumpur. Aku harus ekstra hati-hati mengendarai motor tua ini. Beberapa kali nyaris terjatuh, tapi tekad untuk sampai ke sekolah membuatku terus melaju.
Sesampainya di sekolah, aku terkejut melihat Rara, Qim, dan Rama sudah menunggu di gerbang dengan payung. “Kami khawatir Bapak tidak datang karena hujan,” kata Rara sambil tersenyum.
Air mata hampir saja jatuh. Di tengah keterbatasan, semangat belajar mereka justru semakin membara. Mereka rela menunggu di tengah hujan, hanya untuk memastikan guru mereka datang. Momen seperti inilah yang membuatku yakin, bahwa setiap kilometer yang kutempuh, setiap lumpur yang menempel, setiap debu yang melekat, semuanya bermakna.
Pengabdian yang Tak Terukur
Sore harinya, saat aku bersiap pulang, Rama menghampiriku. “Pak, saya ingin jadi guru seperti Bapak nanti,” katanya dengan mata berbinar. “Saya ingin mengajar anak-anak di tempat terpencil seperti ini.” Tukasnya
Qim menambahkan, “Saya juga, Pak. Saya ingin membuktikan bahwa anak desa juga bisa sukses.”
Rara hanya tersenyum, tapi matanya berbicara banyak. Dalam diam, aku tahu bahwa perjalanan 70 kilometer ini bukan sekadar rutinitas. Ini adalah investasi untuk masa depan. Setiap pelajaran yang kusampaikan, setiap nasihat yang kuberikan, adalah benih yang kuharapkan akan tumbuh menjadi pohon yang kokoh.
Epilog: Demi Cinta dan Pengabdian
Jam dinding mulai menunukkan angkan 14.30 saat aku menghidupkan kembali Supra X 125-ku. Mesin tua itu terdengar lebih berat dari biasanya, tapi tetap menyala. Di belakangku, tiga sosok kecil melambaikan tangan. Rara, Qim, dan Rama mereka adalah alasan mengapa aku terus melaju.
Perjalanan pulang terasa lebih beratnya dari perjalanan perjalanan pagi, karena aktifitas disekolah yang cukup padat ditambah tubuh yang sejatinya harus untuk beristrahat. Tapi hatiku terasa ringan. Karena aku tahu, jauh diujung jalan yang berjarak 70 km kedepan istri dan anak-anakku, tengah menantikan aku untuk kembali membawa kehangatan. Aku faham bahwa cinta pada keluarga dan pengabdian pada negara adalah dua sayap yang membuatku bisa terbang, meski harus melintasi jalan berbatu, lumpur, dan debu setiap hari.
Tujuh puluh kilometer mungkin terasa jauh bagi sebagian orang. Tapi bagiku, ini adalah jarak yang penuh makna. Setiap kilometer adalah cerita, setiap lubang adalah pelajaran, dan setiap senyum siswa adalah hadiah yang tak ternilai.
Setiap waktu untuk tarikan gas adalah modal yang dikaruniakan Tuhan kepadaku untuk selalu dekat dengan-Nya, bagiku waktu 90 menit diatas motor akan terbuang sia-sia jika tidak dimanfaatkan untuk berzikir. Lafaz Subhanallah walhamdulillah walaailaha illallah wllaahu akbar, selalau menjadi hiburanku dalam perjalanan, kendati tidak setiap saat kulakukan.
Inilah hidupku seorang guru yang belajar bahwa pengabdian sejati tidak mengenal jarak, dan cinta sejati tidak mengenal lelah.





