
Dua Baris Surat
Sebuah cerita pendek dari Bimbel Hutan Besar Cipeucang
Hujan turun semalaman. Pagi ini jalan menuju Kapling Nambo masih becek. Laras turun dari ojek pukul setengah sembilan. Ia mengangkat ujung celananya dan berjalan pelan menghindari genangan.
Di tasnya ada tiga hal: satu pak kertas lipat, satu map plastik berisi lima puluh lembar surat izin, dan laptop kantor yang lupa ia keluarkan sejak semalam. Senin sampai Jumat, Laras mengurus tagihan di sebuah kantor di Serpong. Sabtu, ia mengurus hal lain.
Pintu ruang belajar masih terkunci. Namun, di depannya sudah ada enam anak. Mereka duduk di atas sandal masing-masing agar celana tidak basah. Yang paling depan adalah Nia.
“Kak Laras telat,” kata Nia.
Laras melihat jam di ponselnya. Pukul 08.34.
“Kelasnya kan jam sembilan, Nia.”
“Iya. Tapi aku sudah dari tadi.”
Nia berumur tujuh tahun. Ia belum bersekolah. Tiga bulan lalu, ia belum bisa memegang pensil dengan benar. Ia menggenggamnya seperti memegang sendok. Sekarang ia sudah bisa menulis huruf N dengan tiga garis yang hampir lurus.
Laras membuka gembok. Anak-anak menyerbu masuk. Mereka menggelar tikar, menarik meja kayu ke tengah, dan menyalakan kipas angin yang berdiri di sudut. Tidak ada yang menyuruh mereka. Mereka sudah hafal urutannya.
* * *
Pukul sembilan lewat sedikit, ruangan sudah penuh. Tiga relawan lain datang hampir bersamaan. Kak Dimas membawa kelompok besar ke meja depan untuk mengerjakan PR matematika. Laras memegang kelompok kecil di meja belakang.
Hari ini tugasnya sederhana. Setiap anak menulis namanya sendiri.
Bima, empat tahun, menggambar lingkaran besar dan menyebutnya huruf B. Laras tidak membetulkannya. Ia hanya menulis huruf B yang benar di sebelahnya dan membiarkan Bima menirunya.
Nia menunduk di atas buku tulisnya. Lidahnya sedikit keluar dari ujung bibir. Ia menulis N. Lalu I. Lalu A. Hurufnya miring ke kanan, seperti sedang berjalan menanjak.
“Sudah, Kak.”
“Bagus. Coba baca.”
“En. I. A. Nia.”
Laras tersenyum. “Sekarang mau tulis apa lagi?”
Nia diam sebentar. Pensilnya mengetuk-ngetuk kertas.
“Kalau ‘Ibu’, hurufnya apa saja?”
Laras menuliskan I, B, U di pojok halaman. Nia menyalinnya tiga kali. Pada percobaan ketiga, huruf B-nya akhirnya punya dua perut yang sama besar. Nia mengangkat bukunya tinggi-tinggi agar semua anak di meja bisa melihat.
* * *
Pukul sebelas kurang seperempat, kegiatan berganti. Laras membagikan kertas lipat warna hijau. Hari ini mereka akan membuat kipas kertas.
Di atas meja ada dua gunting. Satu bergagang hitam, satu bergagang merah muda. Ada dua botol lem yang tutupnya sudah retak. Untuk empat belas anak di meja belakang, itu semua yang tersedia.
“Antre, ya,” kata Laras. “Yang sudah selesai melipat boleh menggunting duluan.”
Nia melipat paling cepat. Ia anak pertama yang memegang gunting merah muda. Ia sudah membuka mulut gunting itu di ujung kertasnya.
Lalu ia melihat Bima.
Bima menangis tanpa suara. Kertasnya robek di tengah karena ia melipatnya terlalu keras. Ia menatap gunting di tangan Nia.
Nia menutup gunting itu. Ia menyerahkannya kepada Bima.
“Kamu duluan. Nanti aku bantu potong yang lurus.”
Laras melihat semuanya dari ujung meja. Ia tidak berkata apa-apa. Hal seperti itu tidak ada di lembar asesmen mana pun. Ia hanya mencatat dalam kepalanya: Nia, tujuh tahun, menunggu giliran tanpa disuruh.
Sampai kegiatan selesai, Nia hanya sempat menggunting setengah kertasnya. Kipasnya jadi lebih kecil dari milik teman-temannya. Ia tetap mengipas-ngipaskannya ke wajah Bima sampai anak itu tertawa.
* * *
Pukul 11.45, Laras membuka map plastiknya.
“Teman-teman, Kakak mau titip surat untuk Bapak atau Ibu di rumah. Tolong dibawa pulang, ya. Minggu depan dikembalikan.”
Ia membagikan lembar demi lembar. Isinya surat izin. Bimbel akan membuat buku tentang Sabtu-Sabtu mereka. Untuk itu, para relawan butuh izin orang tua sebelum menulis cerita anak-anak.
Nia menerima suratnya dengan dua tangan. Ia menatap kertas itu lama.
“Ini surat apa, Kak?”
“Surat izin. Nanti cerita kalian mau dibuat jadi buku.”
“Ceritaku juga?”
“Kalau Ibu kamu mengizinkan.”
Nia diam. Lalu ia berkata pelan, hampir berbisik.
“Ibu nggak bisa baca, Kak.”
Laras berhenti membagikan surat. Ia sudah tahu hal itu dari data di file Excel. Kolom pekerjaan ibu: buruh cuci. Kolom catatan: kosong. Namun, mendengarnya langsung dari Nia terasa berbeda.
“Nanti Kakak mampir ke rumah, ya. Kakak bacakan untuk Ibu.”
Nia menggeleng.
“Biar aku saja.”
Ia menarik surat itu ke depan wajahnya. Jarinya menempel di baris pertama.
“Ssss… uuu… Su. Rrr… aaa… ttt. Su-rat.”
Anak-anak lain mulai berdiri. Beberapa sudah memakai sandal. Pukul dua belas sudah lewat. Laras tidak menyuruh Nia berhenti. Ia duduk di sebelahnya dan menunggu.
“Per… nya… ta… an. Surat pernyataan.”
Butuh hampir sepuluh menit. Nia membaca dua baris pertama. Huruf demi huruf. Ia salah tiga kali dan mengulang sendiri tanpa diminta. Saat sampai di ujung baris kedua, ia menoleh kepada Laras.
“Bener, Kak?”
“Bener.”
Nia melipat surat itu menjadi empat. Ia menyelipkannya ke dalam saku celana, lalu menekannya dua kali untuk memastikan surat itu tidak jatuh.
“Nanti aku bacain buat Ibu. Pelan-pelan. Yang aku belum bisa, aku tanya minggu depan.”
Ia berlari keluar. Di ujung gang yang becek, ia berbalik.
“Kak! Minggu depan kita belajar lagi, kan?”
“Iya, Nia.”
* * *
Setelah semua anak pulang, Laras menyapu lantai dan menggulung tikar. Ia membuka buku presensi. Di kolom catatan, di sebelah nama Nia, ia menulis satu kalimat:
Hari ini Nia membaca dua baris surat untuk ibunya. Sendiri.
Laras menutup buku itu. Senin nanti, laptop kantornya akan penuh dengan tagihan dan angka. Namun, angka yang paling ingin ia ingat minggu ini hanya satu: dua baris.






