
Ketulusan Seorang Guru Bukan dari nilai kedudukannya
Guru yang tulus adalah ia yang tetap berjuang meski tidak selalu di hargai, tetap membimbing meski tidak selalu dipuji, dan tetap memberikan yang terbaik meski namanya tak pernah disebut. Sebab, hakikat seorang guru bukan tentang seberapa tinggi posisinya, melainkan seberapa besar ilmu, kasih sayang, dan keteladanan yang ia tinggalkan dalam diri para anak didiknya. Jabatan bisa berakhir, kedudukan bisa berganti, tetapi ketulusan dalam mendidik akan tetap hidup dalam setiap ilmu dan kebaikan yang terus menjadi amalan jariyahnya karena anak didiknya. Karena, guru sejati tidak sibuk mencari kedudukan untuk dihormati, ia sibuk menanam kebaikan agar dirinya bermanfaat.
Kisah kehidupan seorang guru di Sekolah Dasar yang bernama itna bermula dari 2 tahun yang lalu, dimana ia akan mengakhirkan masa pendidikannya di sebuah perguruan tinggi tanpa seorang ibu yang sudah meninggal 8 tahun silam. Sebenarnya Ia dulu tak berminat menjadi guru karena merasakan kurang percaya diri akan pengalamannya yang banyak di bully ketika di sekolahya. Namun, takdir siapa yang tahu dan berkata lain, ia merasa bahwa ilmu yang telah diwariskan oleh Almarhumah ibu nya harus di amalkan dengan cara menjadi seorang guru.
Di suatu masa, ada seorang guru yang menceritakan tentang kehidupan dan keadaan di sekolah tempat dia mengabdi, yang dihuni oleh beberapa guru yang baik dan kebetulan dalam waktu yang dekat akan ada seorang guru yang habis masa jabatannya (Purna Bakti). Namun karena itna adalah seorang yang sangat antusias terhadap cerita orang lain, ia langsung menemui kepala sekolah di tempat tersebut yang mana ia siap menggantikan posisi guru yang akan purna bakti. Setelah bertemu kepala sekolah nya dan berbincang tentang apa tujuan dan niat untuk mengajar di tempat tersebut, itna mulai terbangun rasa kagum kepada kebaikan sang kepala sekolah karena beliau tidak menuntut banyak walau belum tuntas dalam permasalahan jenjang pendidikan itna dan langsung menerimanya.
Keesokan hari, itna memulai perjalanan hidupnya dengan niat pengabdian menjadikan anak bangsa untuk diberikan ilmu yang bermanfaat, terutama dalam memahami ilmu agama. Itna berbaur dan mengenalkan diri kepada para pihak sekolah terutama pada kepala sekolah, rekan kerja, serta para anak didik yang separuhnya adalah anak yang di didik di MD yang ia bina. Anak-anak memberikan simpati dan saling memberikan senyuman terhadap guru itna yang baru saja datang ke sekolah utuk mengabdi. Itna merasa nyaman dengan situasi dan kondisi yang ada di lingkungan sekitar sekolah, ketika bertemu para anak didik ia khawatir di hina atau dilontarkan ucapan yang tak pantas seperti body shamming. Namun, fikiran dan kenyataannnya berbeda. Malah ia diberi apresiasi dan pujian yang baik dari para anak didiknya. Dan itna pun merasa antusias nyaman tentram dan menikmati hidup di lingkungan sekolah. Selain anak-anak Guru lain termasuk rekan kerjanya pun sama memiliki hati yang baik saling merangkul, saling memperhatikan dan bekerja sama.
Waktu seiring berjalan dengan situasi yang hangat dan tentram. Setelah genap 8 bulan keadaan berubah, yang hangat menjadi dingin, yang saling menjadi tak peduli. itna merasakan ada hal apa yang terjadi ditempat kerja nya yang sudah ia anggap menjadi tempat nyaman rumah kedua-nya ini.
Sampai ternyata, ada seorang guru yang memiliki kekurangan dan sudah tak layak menjadi pendidik dikarenakan ia memiliki banyak permasalahan dalam keluarga. Dan harus ada yang menggantikan posisinya. Hingga akhirnya keputusan kepala sekolah sudah bulat untuk menghadirkan seorang guru baru untuk meutupi kekurangan di lingkungan sekolah.
Pada awalnya, itna tidak mengira kehadirannya itu akan membawa perubahan besar. Guru baru itu terlihat ramah, pandai berbicara, dan sopan. Namun perlahan, sikapnya mulai terlihat.
Dari sana itna mulai merasakan lingkungan yang tidak baik-baik saja. orang yang biasa bersamanya, kini memilih untuk sering bersama guru baru dan mulai rasa dingin yang tercipta. Itna merasa renggang dan tidak ada lagi jalan untuk bersama dan ia hanya menyendiri setiap waktunya di kantor.
Waktu berjalan cepat, kini hadir kembali guru baru yang sudah memiliki jabatan tetap dan gaya yang tinggi, namun seperti rendah hati. Itna mengira setelah kehadiran guru tersebut hadir, akan berubah kembali situasinya seperti dulu untuk bersama-sama dan bisa utuk saling mengayomi.
Keadaan berkata lain, sangat menyedihkan hubungan antar guru perlahan renggang dan karena satu orang yang telah membuat orang kehilangan kenyamanan. Namun ditengah keadaan itu, itna memilih untuk kuat dan merasa nyaman untuk menyendiri karena tidak termasuk dalam kriteria mereka.
Sampai saat ini itna tetap bekerja dengan baik, tetap menyapa meskipun tidak selalu mendapat balasan. Tetap membantu tanpa berharap dipuji. Tetap bersatu walau tidak pernah diakui. Itna bisa belajar bahwa tidak semua lingkungan harus dilawan dengan kemarahan.
Itna berprinsip bahwa “Aku datang ke tempat ini untuk bekerja mendidik anak-anak, bukan untuk memenangkan perselisihan dan perhatian para atasan senior. Aku tidak bisa mengatur sikap orang lain, tetapi aku masih bisa mengatur sikapku sendiri”.
Sejak saat itu, itna berhenti berusaha menjelaskan dirinya kepada semua orang. Ia tidak lagi sibuk membalas cerita lain. Ia memilih diam ketika tidak diajak, karena diam lebih baik. Berbicara ketika perlunya saja, dan menjaga jarak dari hal-hal yang hanya menguras fikiran dan energi.





