Namamu di antara Hujan

Hujan turun malam ini,
seperti sedang mengeja
namamu di kaca jendela.

Aku terdiam,
membiarkan kenangan
mengetuk pintu ingatan
yang selama ini
berusaha kukunci.

Dulu,
kita pernah berjalan
di bawah langit yang sama,
berbagi payung,
berbagi cerita,
dan percaya
bahwa selamanya
bukan sekadar kata.

Namun waktu punya caranya sendiri
untuk mengajarkan kehilangan.

Kini,
aku hanya mengenalmu
dari aroma hujan,
dari lagu yang tak sengaja terdengar,
dan dari detak kecil
yang masih bergetar
ketika seseorang menyebut namamu.

Mungkin cinta memang begitu—
tidak selalu tentang memiliki,
kadang hanya tentang
menyimpan seseorang
dengan baik
di sudut hati
yang tak pernah ramai.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan