
ADA AIR MATA DI BALIK SENYUM GURU Oleh : Oktridiyanti Puspitasari, S.Pd.I
Pagi itu, Fina berdiri di depan cermin dengan seragam yang masih tampak begitu rapi tangannya beberapa kali merapikan kerah baju dan memastikan tidak ada yang salah. Di wajahnya terukir senyum, meski di dalam dada ada perasaan yang sulit dijelaskan. Hari ini adalah hari pertamanya menjadi seorang guru
“Bismillah, semoga semuanya berjalan lancar.” Ucapnya pelan
Ia tidak pernah membayangkan bahwa langkah pertamanya sebagai guru akan membawanya ke sebuah sekolah kecil di pelosok desa. Sekolah yang jauh dari keramaian kota, dikelilingi sawah dan pepohonan, dengan jalan menuju ke sana yang belum tersentuh aspal.
Pagi itu Fina mengendarai sepeda motornya semakin jauh melaju, jalan semakin sulit dilalui. Aspal perlahan menghilang, berganti tanah merah, batu-batu besar, dan lubang yang dipenuhi genangan air.
“Waduh…” Fina bergumam ketika roda motornya kembali tergelincir kemudian berhenti sejenak, menatap sepatu dan ujung rok yang terkena cipratan lumpur dan untuk sesaat muncul pertanyaan dalam hatinya.
Benarkah aku harus melewati jalan seperti ini setiap hari? Fina menarik napas panjang.
“Tidak apa-apa. Namanya juga perjalanan pertama.”
Beberapa kilometer kemudian, tampak sebuah bangunan sederhana di tengah hamparan sawah.
Itulah sekolah tempat Fina akan mengabdikan dirinya belum sempat memarkirkan motor, beberapa anak berlari menghampirinya.
“Bu Guru! Bu Guru!” Fina menoleh sambil tersenyum.
“Iya? Ada apa?” Seorang anak laki-laki berdiri paling depan.
“Bu Guru baru, ya?”
“Iya. Ibu Fina. Kalau kamu?”
“Saya Danu.” Anak-anak yang lain ikut mendekat.
“Saya Sella, Bu.”
“Anwar.”
“Nadia, Bu.” Fina tersenyum melihat mereka.
“Wah, kenalan dulu semuanya, ya. Ibu takut nanti salah panggil.” Danu tertawa.
“Kalau saya gampang, Bu. Danu.”
“Iya, Ibu ingat. Danu.”
“Kalau begitu, besok Ibu pasti ingat lagi.”
“Kenapa?”
“Soalnya saya paling sering dipanggil guru.” Anak-anak langsung tertawa dan Fina ikut tertawa.
Untuk pertama kalinya pagi itu, rasa gugupnya perlahan menghilang. Hari pertama mengajar pun dimulai dan Fina masuk ke kelas melihat meja dan kursi sederhana, papan tulis yang mulai kusam, serta wajah-wajah polos yang menatapnya penuh rasa ingin tahu.
“Selamat pagi, anak-anak.”
“Selamat pagi, Bu Fina!”
“Sudah sarapan semua?”
“Sudah, Bu!” Danu tiba-tiba mengangkat tangan.
“Bu, kalau belum sarapan bagaimana?” Fina menahan tawa.
“Ya, nanti setelah belajar jangan lupa makan.” Danu mengangguk serius.
“Berarti belajar juga harus pakai tenaga, ya, Bu?”
“Betul. Makanya jangan malas sarapan.” Suasana kelas menjadi lebih santai.
Fina kemudian mengambil spidol dan menulis namanya di papan tulis.
“Sekarang Ibu mau kenal kalian lebih dekat. Siapa yang suka membaca?”
Beberapa tangan langsung terangkat, Sella mengangkat tangan paling tinggi.
“Saya, Bu.”
“Buku apa yang paling kamu suka?” Sella berpikir sebentar.
“Cerita, Bu. Yang ada gambarnya.”
“Oh, berarti kamu suka cerita?”
“Iya. Tapi kalau bukunya tebal sekali, saya biasanya baru baca beberapa halaman.”
“Kenapa?”
“Capek, Bu.” Seketika kelas dipenuhi tawa dan Fina ikut tertawa.
“Baiklah. Nanti kita cari buku yang tidak terlalu tebal.”
Hari-hari berikutnya berlalu, Fina mulai mengenal kebiasaan murid-muridnya. Danu adalah anak yang paling banyak bertanya, Sella selalu membawa buku kecil dan senang membaca, Anwar sering membantu teman-temannya, sementara Nadia adalah anak yang pendiam dan selalu duduk di bangku paling depan. Suatu hari, Fina memberikan tugas menulis cita-cita.
“Anak-anak, hari ini coba tuliskan cita-cita kalian. Tidak usah berpikir terlalu jauh. Tulis saja apa yang ingin kalian lakukan ketika besar nanti.” Kelas mendadak ramai.
“Bu, boleh lebih dari satu?”
“Boleh.”
“Kalau cita-citanya berubah-ubah?”
“Tidak masalah. Namanya juga masih belajar mengenal diri sendiri.”
Fina berjalan mengelilingi kelas. Ketika sampai di meja Nadia, ia melihat kertasnya masih kosong.
“Nadia, kok belum ditulis?” Nadia memainkan ujung pensilnya.
“Belum tahu, Bu.”
“Tidak apa-apa. Memangnya Nadia belum pernah punya cita-cita?” Nadia menggeleng pelan.
“Kadang saya ingin jadi guru.”
“Kenapa kadang?” Nadia tersenyum malu.
“Karena saya suka lihat Ibu mengajar.” Fina ikut tersenyum.
“Kalau begitu, tulis saja.”
“Tapi… saya bisa jadi guru, Bu?”
“Kenapa tidak?” Nadia menunduk.
“Ibu bilang, sekolah tinggi itu butuh biaya.” Fina terdiam sejenak.
Ia kemudian menarik kursi dan duduk di samping Nadia.
“Memang tidak selalu mudah, Nad. Tapi jangan berhenti bermimpi hanya karena sekarang keadaanmu belum seperti yang kamu inginkan.” Nadia menatapnya.
“Kalau nanti susah bagaimana?”
“Kalau susah, kita cari jalan keluarnya. Yang penting kamu jangan menyerah dulu.” Nadia akhirnya tersenyum.
“Berarti saya tulis, ya, Bu?”
“Tulis.” Nadia mulai menulis.
Fina berdiri kembali dan melanjutkan langkahnya. Namun, sebelum beranjak, ia sempat melihat tulisan Nadia: Saya ingin menjadi guru. Entah mengapa, tulisan sederhana itu membuat matanya terasa hangat. Menjadi guru ternyata bukan hanya tentang mengajar, ada mimpi-mimpi kecil yang dititipkan kepadanya, ada harapan yang harus dijaga. Suatu sore, hujan turun begitu deras. Fina masih berada di sekolah karena membantu beberapa murid menyelesaikan tugas.
Ketika hujan mulai reda, Danu menghampirinya.
“Bu, pulangnya sekarang?”
“Iya. Kenapa?”
“Jalannya pasti licin.” Fina tersenyum.
“Memang. Tapi Ibu sudah biasa.” Danu menggeleng.
“Jangan ngebut, ya, Bu.”
“Iya, Pak Danu.” Danu tertawa.
“Saya serius, Bu.”
“Iya, Ibu hati-hati.”
“Janji?”
“Janji.”
Danu kemudian berlari mengejar teman-temannya, Fina memandang mereka dari depan kelas senyumnya perlahan menghilang. Ia tahu, perjalanan pulang akan kembali melelahkan dan benar saja. Di tengah perjalanan, sepeda motornya beberapa kali hampir tergelincir jalan berubah menjadi lumpur, hujan kembali turun, seragamnya basah dan tubuhnya menggigil. Ketika akhirnya sampai di rumah, Fina meletakkan tasnya dan duduk di tepi tempat tidur, air matanya jatuh.
“Capek juga ternyata…” bisiknya.
Ia menutup wajah dengan kedua tangan untuk pertama kalinya sejak menjadi guru, ia membiarkan dirinya menangis bukan karena menyesal hanya sedang lelah namun, ketika membuka tas, matanya menangkap selembar kertas milik Nadia kemudian Fina mengambilnya.
Tulisan itu masih sederhana dan agak miring Saya ingin menjadi guru. Di bawahnya ada satu kalimat tambahan dan Saya ingin mengajar anak-anak seperti Bu Fina. Fina terdiam air matanya kembali jatuh, kali ini lebih deras, Ia tersenyum sambil menangis.
“Ternyata Ibu juga harus belajar dari kalian.”
Keesokan paginya, Fina kembali melewati jalan yang sama. Jalan tanah, batu-batu, lumpur, jalan yang kemarin membuatnya hampir menyerah dan sesampainya di sekolah, Danu, Sella, Anwar, dan Nadia sudah menunggunya.
“Bu Fina!” Fina turun dari motor.
“Pagi. Kalian sudah datang?”
“Sudah dari tadi,” jawab Sella.
Danu mendekat sambil membawa sesuatu di tangannya.
“Ini buat Ibu.” Fina menerima sebuah bunga kecil.
“Buat Ibu?” Danu mengangguk.
“Iya.”
“Kenapa?” Danu mengangkat bahu.
“Tidak tahu. Kemarin Ibu sudah capek, kan?” Fina menatapnya.
“Kok tahu?”
“Kelihatan.” Sella ikut menyela.
“Makanya jangan terlalu capek, Bu.” Anwar tertawa.
“Kalau capek, bilang saja. Kami bisa bantu.” Fina tertawa kecil.
“Iya, nanti kalau Ibu capek, Ibu panggil kalian semua.”
Nadia yang sejak tadi diam tiba-tiba berkata,
“Bu…”
“Iya?”
“Jangan berhenti mengajar kami, ya.” Fina terdiam.
Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, Ia menatap keempat anak itu satu per satu.
“Kenapa bilang begitu?” Nadia tersenyum kecil.
“Karena kami suka kalau Ibu yang mengajar.” Fina mengusap kepala Nadia.
“Ibu juga senang mengajar kalian.”
“Janji?” Fina mengangguk.
“Janji.” Bel sekolah berbunyi.
Anak-anak berlarian masuk ke kelas, Fina mengikuti dari belakang. Sebelum masuk, ia berhenti sebentar dan menatap jalan di depan sekolah dan jalan itu masih sama, belum beraspal penuh batu dan lubang tetapi sekarang Fina tidak lagi melihatnya sebagai jalan yang melelahkan karena melihatnya sebagai jalan yang mengantarkannya kepada anak-anak yang sedang menunggu masa depan.
Di depan papan tulis, Fina menulis sebuah kalimat “Jangan takut bermimpi, meskipun keadaan belum sesuai dengan harapan.” Danu membaca tulisan itu.
“Bu, kalau nanti kami sudah besar, Ibu masih ingat kami?” Fina tersenyum.
“Kalau kalian jadi orang baik, bagaimana mungkin Ibu lupa?” Sella tertawa.
“Kalau jadi orang sukses?”
“Yang penting bukan cuma sukses.”
“Terus apa, Bu?” Fina menatap mereka.
“Jadi manusia yang tetap ingat dari mana kalian memulai.” Kelas menjadi hening.
Fina kemudian tersenyum lalu berkata “Sudah, sekarang buka bukunya. Kita belajar.”
“Siap, Bu!” Suara mereka memenuhi ruangan kecil itu.
Untuk kesekian kalinya, Fina tersenyum tidak ada seorang pun yang tahu bahwa di balik senyum itu ada rasa lelah yang pernah membuatnya menangis, tidak ada yang tahu ada malam ketika ia hampir menyerah, tidak ada yang tahu berapa kali ia berdoa agar diberi kekuatan namun, mungkin memang begitulah seorang guru. Ia menyimpan lelahnya sendiri, menyembunyikan air matanya lalu keesokan paginya, ia kembali datang dengan senyum yang sama karena di hadapan anak-anak yang sedang menggantungkan harapan kepadanya, seorang guru tidak ingin menunjukkan betapa berat langkahnya hanya ingin berkata tanpa banyak kata :“Teruslah bermimpi. Ibu akan menemanimu selama Ibu mampu.”
Dan di balik senyum Fina pagi itu, ada air mata yang diam-diam jatuh bukan karena ingin menyerah
Melainkan karena ia akhirnya mengerti—
menjadi guru bukan sekadar pekerjaan untuk mengajar, tetapi sebuah perjalanan untuk menyalakan harapan di hati anak-anak yang mungkin belum pernah percaya bahwa mereka bisa memiliki masa depan.





