DI ANTARA PAPAN TULIS & KENANGAN

<span;>Menjadi guru bukanlah cita-cita yang sejak awal tumbuh dalam hidup saya. Sebelum mengenal dunia pendidikan, saya hanyalah seorang karyawan yang bekerja di bidang komputer. Dunia saya saat itu adalah layar, perangkat, dan berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan teknologi. Namun, hidup ternyata memiliki jalan cerita yang berbeda.

<span;>Tahun 2021 menjadi awal perjalanan saya sebagai seorang guru honorer di sebuah sekolah dasar di kota. Hari pertama memasuki sekolah, saya disambut dengan keramahan. Guru-guru ramah, siswa-siswi menyenangkan, dan suasana sekolah terasa begitu hangat. Semuanya tampak indah. Mungkin karena saya masih melihatnya dari sudut pandang orang baru.

<span;>Beberapa hari kemudian, saya mulai mengenal bahwa setiap manusia memiliki karakter yang berbeda. Begitu pula siswa, guru, dan lingkungan sekolah. Ada siswa yang cepat memahami pelajaran, tetapi ada pula yang membutuhkan perhatian lebih. Ada yang mudah menangis, suka berteriak, bahkan terlibat perselisihan dengan temannya. Namun, ada pula yang begitu baik, suka berbagi makanan dan berkata, “Bu, ini untuk ibu.”, dan selalu membuat guru tersenyum. Dari merekalah saya belajar bahwa anak-anak tidak pernah datang ke sekolah hanya membawa buku. Mereka membawa keluarga, kebiasaan, perasaan, ketakutan, dan cerita masing-masing. Saat itulah saya menyadari bahwa menjadi guru bukan sekadar berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi. Guru harus memahami. Guru harus mendidik. Guru harus belajar mengenal hati setiap anak.

<span;>Saya mengawali pengalaman mengajar di kelas II sebagai guru pendamping wali kelas. Di sanalah saya benar-benar belajar. Saya memperhatikan bagaimana seorang guru menghadapi murid, menjelaskan materi, menggunakan alat peraga, mengatur kelas, dan menghadapi berbagai karakter anak. Karena saat itu jumlah guru di sekolah pas-pasan, saya sering mendapat tugas sebagai guru pengganti disaat wali kelas tidak dapat hadir karena sakit, acara keluarga, ataupun urusan mendadak. Hampir semua mata pelajaran pernah saya ampu. Pendidikan Agama Islam, Olahraga, Bahasa Sasak, Bahasa Inggris, hingga mata pelajaran umum lainnya. Dari kelas I sampai kelas VI pernah saya masuki. Tanpa saya sadari, keadaan itu justru membuat saya memberi label kepada sekolah itu untuk menjadi sekolah terbaik bagi saya. Saya belajar dari banyak kelas, banyak anak, banyak karakter, dan banyak situasi. Saya belajar bahwa mengajar bukan hanya tentang seberapa banyak materi yang kita kuasai, tetapi seberapa mampu kita membuat anak memahami apa yang kita sampaikan.
<span;>Lima tahun di sekolah pertama meninggalkan begitu banyak cerita.
<span;>Kami pernah makan bersama, tidur bersama saat kegiatan kemah, salat bersama, senam, olahraga, upacara, jalan santai, pawai, berbuka puasa bersama, hingga bernyanyi dan tertawa dalam kegiatan sekolah. Ada hari-hari yang dipenuhi kebahagiaan, tetapi ada pula hari ketika air mata jatuh karena kesalahpahaman dan perbedaan pendapat. Namanya juga manusia. Kami pernah khilaf, pernah salah, pernah berbeda pandangan. Namun, pada akhirnya, semua menjadi bagian dari perjalanan yang membuat kami semakin mengenal satu sama lain. Di sekolah itulah kehidupan saya juga berubah. Saya datang sebagai seorang gadis. Kemudian saya menikah. Lalu saya menjadi seorang ibu. Semua fase itu berjalan beriringan dengan perjalanan saya sebagai guru. Sekolah itu bukan lagi sekadar tempat bekerja. Ia telah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Hingga suatu hari, saya harus pergi.

<span;>Hari itu saya berdiri di depan anak-anak dengan perasaan yang sulit saya jelaskan. Tidak ada yang berbeda dari ruang kelas itu. Papan tulis masih ditempatnya. Meja dan kursi masih tersusun seperti biasa. Suara anak-anak masih terdengar, tetapi entah mengapa semuanya terasa berbeda. Mungkin karena hari itu saya tahu, setelah bel pulang berbunyi, saya tidak akan kembali lagi sebagai guru di sekolah itu. Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar, namun seketika terasa singkat diakhir pertemuan.

<span;>Pengangkatan tenaga honorer membawa saya ke sekolah kedua. Saya harus berpindah tugas. Ada pertemuan, maka ada pula perpisahan. Hari perpisahan menjadi salah satu hari yang sulit saya lupakan. Tangis dan haru bercampur menjadi satu. Hal-hal yang dahulu mungkin terasa biasa, tiba-tiba menjadi begitu berharga. Perdebatan dan kesalahpahaman di masa lalu seakan tidak lagi penting. Yang tersisa hanyalah rasa kehilangan. Saya meninggalkan sebuah keluarga kedua. Berat, tentu saja. Namun, menjadi guru juga berarti siap menjalankan tugas di mana pun dibutuhkan. Sebelum benar-benar meninggalkan sekolah, saya berusaha menyelesaikan semua tanggung jawab. Perangkat pembelajaran, media, dan berbagai hal yang selama ini saya gunakan saya tinggalkan agar dapat dimanfaatkan oleh guru dan siswa. Saya juga memastikan tugas-tugas yang pernah saya emban terselesaikan dengan baik, mulai dari pendamping kesehatan, notulen rapat, kegiatan bantuan sosial, hingga kegiatan keagamaan dan pembinaan siswa. Saya ingin pergi dengan tenang. Bukan karena saya tidak mencintai sekolah itu, tetapi karena saya ingin meninggalkan kenangan baik, kenangan terakhir tentang saya sebagai seorang guru yang menyelesaikan tanggung jawabnya. Kemudian saya memulai kembali dari nol.

<span;>Sekolah kedua jauh lebih besar. Puluhan guru, lima ratusan siswa, dan ruang kelas yang jauh lebih banyak. Semuanya terasa baru: lingkungan, rekan kerja, siswa, kebiasaan, bahkan atmosfer belajarnya. Saya kembali menjadi orang baru. Di tempat baru itu saya bertemu anak-anak dari berbagai latar belakang keluarga. Ada anak dari keluarga guru, polisi, tentara, dokter, pengusaha, dan berbagai profesi lainnya. Karakter mereka pun beragam.
<span;>Saya kembali belajar bahwa setiap anak membutuhkan pendekatan yang berbeda. Fasilitas dan kegiatan di sekolah baru juga lebih beragam. Guru-gurunya kreatif dan aktif. Kegiatan ekstrakurikulernya lebih banyak. Teknologi juga lebih berkembang. Karena saya memiliki pengalaman di bidang komputer, saya merasa memiliki kesempatan untuk berbagi ilmu dengan teman-teman baru. Kami saling belajar. Saya mengajari apa yang saya bisa, dan saya belajar banyak hal dari mereka. Di sekolah baru, saya juga belajar bahwa tantangan seorang guru tidak pernah berhenti. Bukan hanya tentang pelajaran, tetapi juga tentang membentuk karakter. Mengajarkan anak untuk sopan, menghargai guru, bertanggung jawab, menjaga kebersihan, dan memahami arti disiplin. Ada kalanya saya harus menunggu siswa hingga dijemput orang tuanya. Ada pula saat-saat ketika menghadapi karakter siswa yang berbeda-beda. Namun, semuanya menjadi bagian dari tanggung jawab yang saya jalani dengan hati.

<span;>Kini saya memahami satu hal. Menjadi guru adalah perjalanan yang tidak pernah benar-benar selesai. Ada cinta di dalamnya. Ada keluarga. Ada tawa. Ada air mata. Ada pertemuan dan ada kehilangan. Ada hari ketika saya merasa lelah, tetapi selalu ada senyum seorang anak yang membuat saya kembali bertahan.

<span;>Kini saya mengerti, menjadi guru bukan tentang berapa tahun kita berdiri didepan kelas. Bukan tentang berapa banyak siswa yang pernah kita ajar. Bukan pula tentang seberapa sering nama kita disebut. Menjadi guru adalah tentang jejak. Tentang kebaikan kecil yang mungkin tidak langsung terlihat hasilnya. Tentang seorang anak yang dahulu sulit dalam CALISTUNG, lalu suatu hari mampu sendiri. Tentang anak yang dahulu sering menangis, kemudian tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri. Tentang sapaan sederhana, “Selamat Pagi Ibu Guru” yang mungkin terdengar biasa, tetapi suatu hari akan menjadi sesuatu yang dirindukan. Dan tentang pertemuan yang pada akhirnya selalu mengajarkan kita arti perpisahan. Saya tidak tahu akan sampai kapan menjadi guru, tetapi selama masih diberi kesempatan berdiri didepan kelas, saya ingin terus belajar menjadi guru yang lebih baik. Guru yang mampu berubah ketika zaman berubah. Bel mungkin akan berbunyi. Anak-anak mungkin akan beranjak pulang. Suatu hari saya pun akan meninggalkan ruang kelas untuk terakhir kalinya. Namun, saya percaya tidak semua hal benar-benar berakhir. Sebab, sebagian daru seorang guru akan selalu tinggal di dalam diri siswa-siswinya. Dan sebagian siswa-siswinya akan selalu tinggal di dalam hati gurunya.

<span;>Dari sekolah pertama, saya belajar arti kebersamaan. Dari sekolah kedua, saya belajar arti beradaptasi dan terus berkembang. Dan dari keduanya, saya belajar bahwa seorang guru tidak pernah berhenti menjadi murid. Saya mungkin belum menjadi guru yang sempurna. Tetapi saya ingin terus belajar menjadi guru yang profesional, cerdas, kreatif, dan mampu mendidik tanpa membeda-bedakan. Karena pada akhirnya, tugas seorang guru bukan hanya membuat anak pintar membaca dan berhitung. Lebih dari itu, guru memiliki kesempatan untuk menanamkan kebaikan yang mungkin suatu hari akan tumbuh jauh setelah suara kita tidak lagi terdengar di dalam kelas. Dan mungkin, itulah alasan mengapa perjalanan saya menjadi guru akan selalu memiliki tempat khusus di hati. Sebab di antara papan tulis, buku-buku, tawa, air mata, dan ratusan wajah anak-anak, tersimpan bagian-bagian kecil dari hidup saya yang tidak akan pernah benar-benar hilang, tetapi ternyata saya pulang membawa begitu banyak pelajaran tentang kehidupan. Begitulah perjalanan saya.

Bagikan tulisan ini

Similar Posts

Tinggalkan Balasan